Jumat, 25 Oktober 2013

EUROPE [2008] #3 : Lost in Venezia


Sejak dari langkah awal ketibaan, kebingunganpun muncul, soalnya banyak sekali gang-gang menuju kesana kemari. Semakin membingungkan karena somehow gang-gang itu tidak singkron dengan peta yang ada di tangan saya. Awalnya kami bertanya kepada seorang polisi, dimana letak hotel Sofitel. Polisi itu menjawab dengan bahasa Inggris minim tapi bergaya songong menunjuk ke satu arah. Kami lalu mengikuti arah yang ia tunjuk tersebut. Alhasil kami berputar-putar di labirin-labirin  Venesia tanpa tahu arah. Daripada kesasar terlalu jauh akhirnya saya putuskan bertanya kepada seorang petugas warnet, yang surprisingly kebingungan tidak tahu dimana letaknya hotel itu.

Sambil menarik koper masing-masing, kami menyusuri lagi gang-gang labirin Venesia untuk menemukan orang yang tepat untuk bertanya. Seorang pria pemilik toko yang ramah akhirnya menjadi dewa penyelamat. Dia memberi tahu dengan detil arah menuju ke hotel tersebut, dimana saya harus kembali di titik semula di tempat saya bertanya kepada polisi songong itu, melewati sebuah taman, melewati jembatan kecil dan masuk menyusuri gang dari sana.

Saya berjalan sambil mengingat dengan baik instruksi di pria pemilik toko tadi. Beruntung pula pria tadi memberi garis merah di peta yang saya bawa untuk menuntun arah jalan kesana. Setelah berbelok-belok melewati beberapa kanal besar dan kecil, sampai juga akhirnya di Hotel Sofitel, yang ternyata dekat saja dari lokasi kedatangan awal !



Hotel Sofitel dipilih karena saat itu sedang ada internet promo sehingga harga yang diberikan jadi murah (untuk ukuran hotel di Venesia). Perlu diingat dengan baik-baik bahwa tarif hotel dan makanan di Venesia ini sangat mahal. Ini memang kota turis dimana semua bisa jadi uang dan semua ada harganya.

Setelah check-in, seorang room boy berusia sekitar 40 tahun mengambil koper kami dengan kasar tanpa basa-basi. Dia lalu menunjukkan lokasi kamar dengan ekspresi muka yang sengak. Setelah membukakan pintu kamar dan meletakkan koper di pojokan, laki-laki itu langsung saja ngeloyor pergi tanpa bicara apa-apa, masih dengan muka tidak bersahabatnya. Woww, sebuah hotel bintang lima dengan staf ber-attitude minus lima !

Kota tua Venesia memang unik dan menarik, setiap jengkalnya adalah sejarah, entah itu monumen, gereja, museum maupun rumah-rumah penduduk. Meskipun bangunan tua dan lusuh ada disemua sisinya, namun bangunan-bangunan tersebut terawat dengan baik. Gang-gang kecil yang bercabang-cabang di banyak tempat betul-betul seperti labirin yang mudah menyesatkan. Seringkali dijalanan saya mendapati sekelompok orang yang kebingungan mencari-cari jalan menuju ke suatu tempat. Kesasar sepertinya adalah hal lazim disini. Meskipun pihak turisme Venesia sudah melakukan tindakan efektif dengan memberikan tanda panah/penunjuk ke sentra-sentra turisme yang terdapat disana, tapi tetap saja kesasar adalah menu umum para turis disana.




Beberapa bangunan semisal gereja, monument dan rumah masih berfungsi sama seperti berabad-abad yang lalu. Akan tetapi sebagian telah berubah fungsi….ada rumah yang sudah berubah fungsi  menjadi café, bar, restaurant, gallery atau toko. Ada bangunan yang dulunya merupakan perkantoran, kini berubah fungsi menjadi museum, seperti bekas kantor pos Venesia.

Saya tidak akan membahas obyek wisata di Venesia satu persatu, karena obyek wisata itu bisa dibaca di situs-situs atau buku turisme Venesia.

Berjalan-jalan di siang hari di musim semi yang sejuk di Venesia adalah suatu hal yang sangat menyenangkan, meskipun menurut teman saya, kota ini adalah kota empang (somehow betul juga).  Belajar dari pengalaman kesasar seperti tikus di dalam labirin saat tiba tadi siang, maka ketika kami berjalan kaki keliling-keliling Venesia, benar-benar harus disiplin mengikuti tanda panah penunjuk arah serta spot-spot penting untuk ditandai dan diingat (misalkan patung atau gereja) untuk memudahkan kami mencari jalan pulang kembali ke hotel. Pilihannya antara disiplin mengikuti jalur panah penunjuk dan menghapal spot-spot tertentu atau kesasar berputar-putar digang-gang Venesia.




Berjalan di gang-gang dan lorong-lorong dengan dinding-dinding tua yang dingin dan menjadi saksi sejarah berabad-abad yang lalu sungguh merupakan pengalaman yang fantastis. Tidak jarang saya mendapati lorong tua yang agak gelap dan kebetulan sepi tanpa adanya manusia di sepanjang lorong itu…cocok sekali untuk tempat shooting film horor. Tapi cuek sajalah, setan bule tidak seseram setan Indonesia kok !
Setiap berjumpa spot menarik saya selalu berhenti, entah itu gallery, toko, gereja maupun monumen. Di beberapa spot suasana sangat ramai karena banyak turis amprokan di tempat yang sama pada saat yang bersamaan.

Di sepanjang gang di Venesia terdapat banyak sekali gereja Katolik yang sudah berusia sangat tua, beberapa berarsitektur gaya Gothic. Ketika melewati satu gereja, terdengar paduan suara sedang berlatih lagu-lagu klasik dengan sopran yang melengking-lengking. Ok, gereja tua bernuansa gelap dengan backsound suara melengking-lengking, tinggal tunggu kelebatan-kelebatan yang lewat hehehehe.

Melewati gereja lainnya (yang saya lupa namanya) saya mendapati poster besar di dekat pintu masuknya bahwa nanti malam yang merupakan malam Minggu akan ada konser musik klasik dari sebuah orkestra kamar dari Bologna. Teman saya tergoda untuk menonton pada awalnya, sampai saya nyeletuk “beneran lu mau nonton konser sampai jam 10 malam ? pulang jalan kaki sendirian  gelap-gelap di lorong-lorong begini ?”…dan dia mengurungkan niatnya !

Di tengah perjalanan, saya memperlambat langkah kaki ketika melewati daerah perumahan yang luckily pada sore hari itu penghuni-penghuninya sedang beraktifitas. Ada seorang wanita tua yang sedang menyiram bunga di pekarangan mungilnya. Ada anak-anak kecil yang berdiri di jendela di lantai atas rumahnya menonton para turis yang berlalu lalang di depan rumah mereka. Ada seorang kakek yang sedang ngobrol duduk di teras rumahnya dengan seorang lelaki yang lebih muda. Sementara selang beberapa rumah dari sana, seorang laki-laki sedang mencuci vespa miliknya dan dari dalam rumahnya sayup-sayup terdengar lagu Italy dari suara penyanyi lama Italy : Mina. Melihat suasana seperti itu saya seperti berada di dunia yang lain. Dari Jakarta yang penuh hingar bingar dikejar-kejar kehidupan kapitalis, tiba di sebuah tempat yang tenang, damai, santai, bersahaja dan kekeluargaan. Life was enjoyable there !

Setelah berjalan cukup lama, kami tiba di sebuah area yang ramai, penuh dengan restoran, café dan bar serta toko-toko. Disini juga terdapat jetty tempat gondola maupun boat berlabuh, naik dan turunnya penumpang. Ada beberapa gondola sliweran dibawah jembatan membawa sepasang manusia yang sedang asyik mesra-mesraan, termasuk ciuman pastinya. Tempat tersebut adalah Grand Canal.






Setelah berjalan lebih jauh lagi, dan kaki mulai pegal, akhirnya kami sampai di area paling populer dan tujuan utama turis, yaitu St. Mark Square.





Sebelum berangkat ke Italy saya sudah membaca bawah area ini adalah area dengan titik terendah di kota Venesia, dimana ketika air laut pasang, beberapa bagian dari St. Mark Square akan terendam. Ketika berada di pinggiran laut disini, saya memang merasakan bahwa area ini sangat rendah, karena perbedaan ketinggian air laut dengan tempat tanah dipijak hanya sekitar 1-2 jengkal saja. Apabila ketinggian air laut akan naik karena global warming, diperkirakan area St. Mark Square inilah yang pertama kali akan tenggelam. Sangat disayangkan sekali kalau area yang sangat cantik dan kaya sejarah begini akan tenggelam secara perlahan-lahan suatu hari nanti.


Keesokan paginya kami berangkat dengan bergegas menuju ke stasiun kereta karena perjalanan akan dilanjutkan menuju Milan. Pagi itu matahari sudah naik, tapi udara Venesia masih dingin dan belum banyak orang beraktifitas. Kami berjalan kaki kembali melewati gang-gang dan menyeberang jembatan sambil menyeret koper masing-masing. Oh ya, satu hal, beberapa jembatan yang melintasi kanal-kanal di Venesia ini tidak berlantai datar (lantainya berupa anak tangga), oleh karenanya kalau anda membawa koper besar dan berat, siap-siap struggling mengangkat-angkat koper ketika melewati sebagian jembatan tersebut.

Kami tiba di stasiun kereta Venezia - Santa Lucia yang terletak di pinggiran water city Venesia 1 jam lebih awal dari jadual kereta. Saya lalu melihat papan jadual keberangkatan dan tidak menemukan jadual kereta yang menuju ke Milan. Oh, mungkin jadualnya belum muncul karena masih 1 jam lagi, maka diputuskan untuk pergi mencari sarapan cepat terlebih dahulu. Selesai melahap dua buah croissant dan secangkir kopi, kami berjalan santai kembali menuju papan jadual keberangkatan kereta, tapi tetap tidak ada kereta dengan tujuan Milan. Mulai bingung, kenapa jadual tidak muncul padahal waktu keberangkatan tinggal 30 menit lagi. Kebetulan ada petugas “station services” yang menggunakan sepatu roda melewati kami. Kami segera hentikan dia dan bertanya kenapa tidak ada jadual kereta yang ke Milan ? Dia dengan cepat membawa kami ke petugas loket dan sontak saya baru sadar bahwa stasiun yang tertulis di tiket adalah Venezia Mestre, bukan Venezia Santa Lucia. Seketika darah rasanya turun ke kaki semuanya karena waktu tinggal 30 menit dan kami harus ke stasiun satunya lagi yang entah berapa jauh dari sini.

Petugas loket yang untungnya berbahasa Inggris dengan baik, menunjuk satu peron, menyuruh saya naik kereta yang sudah stand by dan akan berangkat segera di peron itu, lalu turun di stasiun Mestre dan cari peron untuk kereta yang menuju ke Milan. Instruksi yang sangat jelas.

Adegan selanjutnya seperti di film-film action, berlari sekencang-kencangnya sambil mengangkat koper menuju peron yang ditunjuk dan meloncat naik kereta yang sudah siap-siap berangkat. Orang-orang di sekitar kami memandangi dengan wajah heran, ada dua orang asing berdiri dengan napas tersengal-sengal basah kuyup oleh keringat. Padahal kereta itu adalah commuter biasa yang aka nada setiap 15 menit sekali. Pyuuuhhhh…

Ketika tiba di stasiun Mestre, lagi-lagi kami harus bergerak cepat mencari papan penunjuk peron kereta menuju Milan. Cepat dan akurat adalah kata kunci, jangan sampai salah naik kereta ! Setelah tahu nomor peron kereta, lagi-lagi kami menghambur lari sprint menuju kereta tujuan. Masuk saja sembarang gerbong, yang penting terangkut dulu sama kereta itu. Benar saja, baru saja kami duduk di kursi yang telah ditentukan, 1 menit kemudian kereta bergerak pelan untuk melaju kencang menuju Milan.

Pelajaran dari pagi hari itu : perhatikan dengan seksama semua informasi yang ada di dokumen perjalanan ! Jangan main menyepelekan ! 

EUROPE [2008] #2 : Naik Pesawat Tua MD-82 Alitalia


Dari Roma perjalanan dilanjutkan ke Venesia, karena menghemat waktu dan tenaga, rute Roma – Venesia ditempuh dengan pesawat terbang.

Pagi itu kami menyusuri jalanan sepi dari hotel menuju ke stasiun Termini yang berjarak hanya beberapa ratus meter saja. Masih jam 6.30 pagi, gedung-gedung tua disepanjang jalan masih hening karena belum banyak aktifitas dari manusia yang berhuni disana, sementara aroma pesing muncul dari beberapa titik di sepanjang kaki melangkah.





Stasiun Termini pagi itu belum terlalu ramai. Kami langsung menuju papan pengumuman untuk mencari nomor peron kereta menuju ke airport, yang berangkat setiap 30 menit sekali. Setelah menemukan peron yang dituju, saya agak bingung dimana tempat membeli tiketnya karena tidak terlihat ada loket disekitar situ. Upaya mencoba bertanya kepada seorang lelaki setengah baya  hanya sia-sia karena ternyata dia tidak bisa berbahasa Inggris sama sekali. Saya lalu bertanya hal yang sama kepada seorang wanita muda dan ternyata dia juga tidak bisa berbahasa Inggris tapi setidaknya secara pasif dia bisa menangkap maksud pertanyaan saya. Dia lalu menunjuk ke satu titik, dimana berdiri mesin pembelian tiket. Ok got it !


Tidak lama kemudian kereta tiba, tidak seperti saat tiba 3 hari yang lalu dimana saat itu keretanya agak kotor, kereta yang digunakan pagi itu lebih bersih. Penumpang cukup ramai, sebagian penumpang disekitar adalah turis berbahasa Inggris dan Jerman. Naik kereta api tut…tut…tuuuttt, perjalanan pagi itu penuh semangat karena cuaca diluar sangat cerah dan udara sejuk yang menyegarkan.



Suasana Check-In Hall Terminal Domestik & Eropa pagi itu ramai dengan orang yang akan bepergian dan para pengantar. Mata saya sempat berhenti sekejap pada laki-laki Italy yang berdandan ala mafia Italy yang kita lihat di film-film, berjas panjang lengkap dengan topi fedora. Mungkin mereka memang para inner circle mafioso dari Italy selatan.
Setelah selesai self-check in dan drop bagasi, saya menuju ke foodcourt untuk mencari pengganjal perut di pagi hari. Menu sederhana : chicken sandwich, susu dingin dan orange juice menjadi pilihan pagi itu.



Perut kenyang dan semangat menyala-nyala, saya asyik mengamati atraksi menarik diluar jendela kaca lebar di foodcourt tersebut. Atraksi tersebut adalah puluhan pesawat yang sedang parkir, sedang pushed back, taxiing, dan lain-lain. Mayoritas adalah pesawat tuan rumah, Alitalia. Saat itu, maskapai Alitalia sedang dililit masalah keuangan dan masalah ketegangan antara Manajemen dan Serikat Pekerja yang menolak PHK sebagian karyawan. Tapi untungnya tidak berdampak kepada strike sehingga operasional berjalan normal.
Perut kenyang dan semangat menyala-nyala, saya excited akan pergi ke Venesia dengan naik pesawat MD-82 Alitalia, pesawat yang sudah lumayan langka, bahkan di Indonesia saat itu cuma tinggal beberapa buah saja yang dioperasikan Wings Air dan carteran Air Fast.
Layaknya tagline “bukan Italy namanya kalau tidak molor”maka pesawat pagi itupun delay sekitar 40 menit dari jadual semula. Ini adalah kali pertama saya naik pesawat jenis MD-82 dan ternyata suara mesinnya memekakkan telinga luar biasa. Beruntung saya duduk dibaris tengah, jadi agak jauh dari gemuruh dua mesin di bagian belakang itu.



Berbeda dengan penerbangan dengan Alitalia sebelumnya, penerbangan pagi itu jauh lebih menyenangkan. Pramugari dan pramugara yang bertugas pagi itu ramah menebar senyum dan tawa dengan tulus ke semua penumpang. Mungkin mereka sadar bahwa penumpang yang diangkut sebagian besar adalah turis yang akan menghabiskan waktu dan uang mereka selama weekend di Venesia.

Setelah terbang sekitar 1 jam, pesawat mulai descending dan bersiap-siap landing. Sebagian penumpang yang duduk di jendela (dan pastinya turis) heboh melihat keluar jendela. Karena saya duduk di gang, saya cuma bisa iri kepada mereka karena saya bisa membayangkan mereka excited melihat cantiknya kota Venesia dari udara.
Marco Polo Airport di Venesia tidak terlalu besar, tapi memang dirancang sanggup menampung luapan turis dari berbagai negara. Mungkin sama seperti Ngurah Rai di Bali. Pagi itu ada beberapa pesawat dari Eropa dan Amerika yang juga baru mendarat sehingga penumpang menunggu bagasi di belt lumayan ramai.

Pilihan transportasi dari airport ada beragam, bisa naik bus, taxi atau water taxi (boat). Tujuannya pun berbeda-beda, mau ke kota tua yang adalah pusat area turis atau ke wilayah darat dari Venesia.

Kami menumpang bus ekspress menuju ke Statione di Santa Lucia, yang merupakan gerbang masuk ke kota tua Venesia. Baru saja kaki melangkah meninggalkan terminal bus, saya betul-betul merasa ini adalah kota turisme dunia. Ada keluarga Arab dengan para wanita berhijab, turis dari Cina yang berjalan rapi seperti semut mengikuti perintah tour leader-nya, beberapa orang Negro yang berjalan santai dan pastinya turis Caucasian.

EUROPE [2008] #1 : Roma Yang Tidak Sukses



“The city is beautiful, but not really impress me”



Excited ? Pastinya ! Karena ini adalah perjalanan pertama saya ke Italy, setelah selama bertahun-tahun cuma bisa berkhayal kapan ya bisa pergi ke Italy. Rute yang akan ditempuh adalah Roma – Pisa – Venice – Milan.


Perjalanan dimulai dari Heathrow Airport, London. Saya akan menumpang pesawat Alitalia menuju ke Roma. Terbang pertama kali dengan Alitalia pastinya membuat perjalanan semakin menyenangkan. Interior pesawat terkesan kuno, dengan dominasi kursi warna hijau tua yang merupakan warna khas Alitalia. Baru saja duduk di pesawat, nuansa Italy sudah terasa sangat kental karena sebagian penumpang ribut ngobrol dalam bahasa Italy dan dengan volume suara yang lumayan keras.

Saya pikir orang Italy ini mirip orang Batak ya…kalau berbicara sama-sama keras dengan intonasi yang khas dan sama-sama suka menyanyi !
Pengalaman pertama terbang dengan Alitalia sedikit ternoda karena sikap para awak kabin yang tidak simpatik, tepatnya rasis !. Mereka ramah, bahkan sangat ramah sampai tertawa-tawa dan mengobrol kepada penumpang berbahasa Italy. Kepada penumpang berbahasa Inggris mereka hanya berbasa basi seperlunya. Akan tetapi kepada penumpang kulit berwarna, mereka pasang muka tidak bersahabat, bertanya mau makan apa dengan muka sepak dan memberikan nampan makanan sambil membuang muka tanpa melihat kepada penumpang.
Oh ya, pengalaman rasialis seperti itu ternyata kemudian berlanjut selama di Italy. Berkali-kali saya mendapati perlakuan tidak simpatik dari petugas hotel, pelayan restoran, pelayan café serta petugas internet café.
Pengalaman rasialis di dalam pesawat tersebut melengkapi mood jelek perjalanan karena sebelumnya pesawat juga sudah delay sampai 3 jam saat akan berangkat dari London. Rencana untuk sampai di Roma sore hari menjadi berantakan karena akhirnya pesawat landing di Fiumoccino saat langit sudah gelap.
Pesawat mendarat dengan mulus di airport Leonardo DaVinci - Fiumiccino di pinggiran kota Roma ketika jarum jam menunjukkan sekitar jam 7 lewat. Dari sini kami menggunakan kereta menuju ke Stasiun Kereta Termini di pusat kota Roma. Begitu masuk gerbong kereta, saya terkagum-kagum atas ketidak bersihan kereta di Italy, keretanya kusam dan kotor.
Perjalanan dari airport Fiumiccino menuju stasiun Termini memakan waktu sekitar 30 menit. Berhubung banyak cerita pencopetan dan penjambretan di stasiun Termini, saya agar khawatir juga berjalan kaki keluar stasiun ini di malam hari untuk menuju hotel yang terletak di sekitar stasiun Termini.  Saya sebetulnya selalu menghindari tiba di daerah yang sama sekali baru di malam hari atas alasan keamanan dan kenyamanan.
Suasana di sekitar stasiun memang agak gelap, ditambah dengan gedung-gedung tua di semua sudut membuat suasana disini cocok untuk film-film horor atau film-film kriminal. Beruntung di beberapa titik terlihat polisi sedang berpatroli sehingga memberi sedikit rasa aman.
Saya menginap di Hotel Villa DelleRose di Via Vicenza, yang berjarak hanya beberapa ratus meter dari stasiun Termini. Awalnya agak kebingungan juga mencari lokasi hotel karena daerah yang cukup gelap, jadi kami tidak bisa membaca dengan jelas nama jalan yang menempel di bangunan disana.
Hotel ini merupakan hotel kuno, yang pada tahun 2008 itu masih belum direnovasi (kalau saya intip di internet sepertinya sekarang sudah lebih baik kondisinya). Begitu masuk ke dalam kamar, yang tercium adalah bau pengap dan bau karpet yang sudah lama & kotor. Hmmm…bayar hotel dengan rate diatas USD 100 semalam, dapat kondisi seperti ini !
Benar saja, besok pagi teman travelling saya bangun dengan kambuhnya alergi debu rumahnya ! Dia batuk-batuk dan gatal-gatal sejak malam dan tidak bisa tidur. Akibatnya, agenda pertama keesokan paginya adalah mencari apotik untuk mencari obat alergi. Sempat terbersit wacana untuk ganti hotel, tapi urung karena kondisi dia sudah membaik setelah minum obat.
Perjalanan di Roma bisa saya simpulkan “biasa saja” karena nyaris tidak ada pengalaman yang berarti. Saya menikmati indahnya bangunan-bangunan dan monumen-monumen disana, akan tetapi di setiap obyek turis tersebut penuh sesak sama manusia. Sepertinya saat itu turis dari berbagai negara beramai-ramai datang ke Roma. Sangat sulit memotret obyek wisata disana tanpa adanya gangguan penampakan orang-orang asing tersebut. Ketika tiba di Cathedral St. Petrus Basilica pun antrian masuk mengular panjangnya bermeter-meter.







Jadi kesimpulannya, pengalaman di Roma ini flat, tidak ada sesuatu yang membuat excited !



Selasa, 22 Oktober 2013

Ketika Sebuah Nyawa Melayang di Oxford Street [2008]

“I always love London, except this time”

London selalu memberikan banyak pengalaman menarik dalam hidup saya, tapi bukan pengalaman seperti yang saya alami pada musim panas tahun 2008, disaat saya sedang menghabiskan hari-hari terakhir liburan saya disana.

Suatu siang, ketika waktu menunjukkan pukul 2 waktu setempat, saya baru saja keluar dari sebuah restoran Asia di Oxford Street dan berjalan pelan menyusuri pertokoan di jalan yang sama. I need cafeine badly, oleh karenanya saya memutuskan untuk jalan menuju café Starbucks yang terletak sekitar beberapa puluh meter dari restoran tersebut.

Baru saja berjalan pelan beberapa meter, saya dikejutkan oleh suasana gaduh disertai suara teriakan histeris seorang wanita. Ada lelaki muda kulit hitam berlari kencang melewati saya dan terus berlari tunggang langgang menjauh, sebagian laki-laki lain berteriak-teriak dengan kerasnya. Orang yang lain juga ikut  berteriak-teriak sambil menunjuk ke arah orang yang lari kencang tadi. Kejadian tersebut terjadi hanya sekelebat mata dan dalam hitungan detik saja. Saat itu saya blank, berdiri kaku tanpa tahu apa yang sedang terjadi. Tapi dada saya bergemuruh kencang sekali karena saya yakin ”ada sesuatu yang tidak beres”.

Sedetik kemudian ketika otak saya berhasil merangkum puzzle atraksi keras yang terjadi sangat cepat tadi, saya mulai berasumsi bahwa lelaki yang berlari tunggang langgang tadi kemungkinan  adalah “pencopet” dan suara wanita yang melengking histeris diawal tadi adalah korbannya. Sementara orang-orang yang berteriak belakangan adalah saksi yang ada di sekitar korban.

Dalam linglung dan deg-degan saya mendapati keadaan disekitar saya justru semakin gaduh.

Mata saya terpaku menyaksikan seorang gadis remaja Asia Timur (perkiraan adalah bangsa Korea) yang duduk gemetar di trotoar jalan dengan air mata tangis yang deras. Disebelahnya duduk Ibunya yang memeluk si gadis erat-erat agar tubuhnya tidak gemetar.

Saya sempat berpikir, apakah gadis ini yang menjadi korban ? Tapi jawabannya ternyata tidak,karena tidak jauh dari tempat si gadis tadi duduk, saya mendapati ada kerumunan orang-orang yang membuat lingkaran mengerumuni sesuatu. Sebagian dari mereka duduk di lantai, ada yang berlarian kesana kemari, ada yang menelfon dari telfon genggamnya dengan suara kencang bernada cemas.  Satu dua polisi mulai terlihat di kerumunan. Intuisi saya berkata bahwa ini tidak sekedar pencopetan, ini sesuatu yang lebih buruk.

Rasa ingin tahu saya mendorong langkah saya untuk mendekati kerumunan dan memperhatikan  dengan seksama ada apa ditengah kerumunan orang tersebut. Ternyata disana tergeletak seorang lelaki besar berkulit hitam bersimbah darah. Benar ternyata yang terjadi adalah hal yang lebih buruk dari pada pencopetan, karena ini adalah pembunuhan !

Terus terang mental saya tidak cukup kuat untuk menyaksikan kejadian mengerikan itu, dan saya memutuskan untuk melangkah menjauh meninggalkan kerumunan.

Hanya selang beberapa langkah saya berjalan, suara serine ambulans terdengar meraung-raung tiba TKP. Lelaki yang menjadi korban segera diangkat dan dibawa pergi ke rumah sakit. Petugas paramedis bekerja dengan sangat sigap dan cekatan dalam melakukan evakuasi. Persis seperti di film-film yang sering kita tonton.

Diantara kerumunan, beberapa orang tampak sedang diinterogasi oleh polisi. Sementara polisi yang lain menyisir lokasi TKP dan mencatat beberapa hal. Gadis remaja Asia Timur yang menangis-nangis tadi juga sedang ditanya-tanya oleh polisi. Kalau merunut kejadian yang saya alami tadi, bisa jadi si gadis adalah saksi utama yang melihat langsung kejadian mengerikan tersebut. Dan suara teriakan histeris perempuan itu adalah suara dia.

Saya tidak tahu motif apa dibalik pembunuhan itu dan tidak berusaha mencari tahu dengan bertanya kepada orang-orang disekitar.

Oxford Street yang memang tidak begitu lebar mendadak menjadi macet total karena jalanan diblokade polisi untuk evakuasi korban dan lalu lalang kendaraan polisi.

Meskipun saya tidak melihat secara langsung moment pembunuhan, akan tetapi kejadian tersebut  membuat saya syok. Pertama kali dalam hidup, saya berada sedemikian dekat dengan titik tempat terjadinya suatu pembunuhan. Saya terus berjalan menjauh dari TKP dengan pikiran dan perasaan yang kacau.

Untuk menenangkan diri, saya kemudian masuk ke toko buku Borders yang berada di dekat TKP. Di toko ini saya naik ke lantai 3, tempat dimana café Starbucks berada. Sambil menyeruput secangkir Hot Caramel Macchiato, saya mengamati keadaan dibawah sana dari jendela café. Dibawah terlihat keadaan masih ramai, tapi polisi sudah memasang pita kuning tanda pemblokiran TKP dan mengamankan area tempat kerumunan orang tadi. Oxford Street masih sepi karena mobil dilarang berlalu lalang sampai polisi selesai melakukan pengolahan TKP.

Hanya sekitar 15 menit saja saya berada di Starbucks, karena terdengar pengumuman dari pengeras suara bahwa pertokoan (toko buku Borders serta café Starbucks) harus segera dikosongkan dan ditutup sementara untuk kepentingan penyelidikan polisi. Semua pengunjung diminta untuk meninggalkan pertokoan dengan melewati pemeriksaan polisi di pintu keluar.

Di pintu keluar polisi memeriksa secara random pengunjung toko buku dan café yang keluar. Sepertinya polisi sedang menyisir kalau-kalau pelaku menyelinap masuk ke pertokoan.

Di luar pertokoan, suasana sangat ramai karena ternyata semua pertokoan didekat TKP ditutup paksa oleh pihak kepolisian untuk kepentingan penyelidikan.

Saya berjalan menjauhi lokasi kejadian sambil sesekali mengabadikan keadaan di TKP dengan kamera saya. Saya memutuskan untuk kembali ke hotel saja karena mood saya sudah rusak oleh kejadian tersebut. Rencana untuk pergi mengunjungi rumah teman lama di pinggiran kota London di malam hari itu, saya batalkan. Saya memilih untuk istirahat saja di hotel.









Keesokan paginya saya sudah berada di Heathrow Airport untuk pulang kembali ke Jakarta dengan menumpang penerbangan Singapore Airlines siang harinya. Ketika sedang membaca koran di waiting lounge saya terpaku pada sebuah berita tentang tewasnya seorang pria karena tikaman pisau di Oxford Street kemarin siang. Lelaki yang kemarin saya lihat bergelimang darah akhirnya menghembuskan nafasnya di rumah sakit.

Berdasarkan berita di koran, kronologis kejadian adalah adanya cekcok antara seorang remaja kulit hitam dengan petugas keamanan sebuah toko di Oxford Street (yang juga berkulit hitam) karena si remaja tersebut membuat kegaduhan didalam toko. Si remaja diusir keluar toko oleh petugas keamanan. Ia marah dan kemudian kemudian menusukkan pisau lipatnya tepat ke dada si petugas. Secepat kilat emosi meledak, menepikan rasa dan logika dan seketika itu pula setan membisikkan dorongannya yang berujung pada hilangnya sebuah nyawa sia-sia…

Sepotong Cerita dari Mumbai [2005]

“The most happening and colorful place I’ve ever visited in my life”

Meskipun sudah 8 tahun berselang, kenangan tentang kota yang satu ini masih saja melekat di memori saya. Sayang sekali, foto-foto seadanya yang sempat saya ambil selama 5 hari disana raib entah kemana. Seingat saya, dulu saya upload satu album penuh ke dalam account friendster, sayang sekali friendster sudah jadi almarhum sekarang.

Perjalanan ini tidak direncanakan ketika saya ditugaskan oleh kantor terdahulu untuk mengikuti training leadership di Mumbai, yang diselenggarakan oleh kantor Regional Asia Pacific. Training dihadiri oleh perwakilan dari kantor-kantor di negara-negara Asia, dengan 3 orang perwakilan dari Indonesia.

Ketika kedua rekan saya memilih terbang dengan Thai Airways dengan alasan waktu terbang yang connecting-nya paling bagus, saya memilih naik Singapore Airlines dengan alasan pelayanan dan ingin menambah pundi-pundi mileage Krisflyer.

Tahun 2005, pengurusan visa ke India belum memakai sistem Visa on Arrival seperti sekarang. Jadi saya harus mengurus visa ke Kedutaan Besar India di Kuningan. Untungnya proses cukup praktis dan visa keluar dalam 5 hari kerja.

Sebelum berangkat, kami diberikan panduan singkat tentang training tersebut dan panduan singkat tentang lokasi penyelenggaraan training, yaitu Mumbai. Satu hal yang masih saya ingat sampai detik ini adalah reminder tentang pentingnya memperhatikan higienis makanan dan minuman selama disana. Satu kalimat yang masih terus terekam di memori saya adalah “drink only from bottled”

Karena pesawat dari Singapore ke Mumbai yang saya pilih berangkat pagi hari dari Changi, maka saya menginap dulu semalam di Singapore atas biaya sendiri.

Flight SQ 422 berangkat dari Changi pukul 07.30 pagi dengan kapasitas penuh. Proses boarding penumpang berjalan agak tersendat-sendat karena banyaknya penumpang asli India mainland yang berangkat rombongan dan ribut sendiri antar anggota keluarga mengatur tempat duduk mereka. Ketika saya baru masuk ke kabin pesawat, saya tersendat karena ada serombongan keluarga dari India yang sibuk berfoto-foto ria di kursi mereka, sementara antrian masuk mengular. Antara jengkel sama ngakak melihat kejadian menarik itu. Sungguh sebuah tontonan langka ! Mereka tidak peduli ada ratusan penumpang yang masih menunggu masuk ke pesawat, yang penting foto-foto dulu di dalam pesawat hahahaha…Taring saya untung belum sempat keluar, karena sudah keduluan oleh pramugari SQ yang dengan nada jengkel, menegur dengan tegas keluarga tersebut untuk duduk diam sampai proses boarding selesai. Oh, what a beautiful morning !

Saat ketinggian pesawat telah stabil di udara, para awak kabin membagikan makanan sarapan pagi dengan salah satu pilihan menu adalah Indian Breakfast. Sontak aroma khas kari India meruak kencang sekali di seluruh kabin. Selain menu yang dihidangkan para awak kabin, saya perhatikan banyak juga penumpang yang membawa makanan mereka sendiri, mungkin mereka khawatir kalau-kalau tidak dapat makanan vegetarian di pesawat. Overall, penerbangan tersebut meriah !

Sekitar pukul 10.20 pagi waktu Mumbai, pesawat Boeing 777-200 itu mendarat dengan mulus di Chhatrapati Shivaji International Airport – Mumbai. Suasana airport tidak begitu ramai pagi itu. Airport tersebut terkesan tua, sekilas mengingatkan saya kepada airport Kemayoran. Terminal penumpang baru yang akan diresmikan tahun 2013 ini masih belum mulai dibangun saat itu.

Setelah urusan imigrasi selesai, saya dan penumpang lainnya terlunta-lunta menunggu bagasi yang lamaaaa sekali keluarnya.

Pagi itu saya tidak lagi khawatir untuk urusan transportasi ke hotel, karena sudah dijemput oleh pihak penyelenggara training.

Bagasi akhirnya keluar dan saya bergegas keluar menuju arrival hall untuk mencari pria asing yang membawa papan nama bertuliskan nama saya. Alih-alih menemukan papan nama tersebut, saya justru dikerubuti oleh sekitar 3 orang pengemis cilik…wowwww !!! ini masih di dalam arrival hall di airport dan sudah ada pengemis ? Well, I think this is the truly warm welcome from Mumbai people…

Secara fisik, para pengemis cilik itu sama semuanya, kurus, berkulit hitam berdebu, sangat kotor, rambut gimbal dan pakaian compang camping. Sepertinya mereka anak-anak dari kaum Paria, kaum yang secara strata kasta ditempatkan sebagai kaum terbuang.

Beruntung tidak lama kemudian saya sudah mendapatkan petugas yang menjemput saya ke airport. Kami kemudian buru-buru menuju ke parkiran mobil. Tapi yang namanya pengemis cilik itu, salah satunya tetap menguntit saya dan memegangi celana saya dengan tangan kirinya. Wajahnya, sumpah, memelas sekali ! Tapi saya sendiri juga kebingungan karena saya tidak punya uang receh Rupee saat itu. Si petugas penjemput saya kemudian berusaha mengusir pengemis tersebut. Tapi kesan yang tertangkap dari intonasi bahasa Hindi dan bahasa tubuhnya yang digunakan, lelaki itu lebih tepatnya seperti orang menghalau binatang pengganggu.

Perjalanan dari airport ke hotel JW Marriott Mumbai ternyata tidak terlalu jauh juga. Rupanya airport dan hotel JW Marriott tempat saya menginap dan mengikuti training terletak di satu wilayah, bernama Juhu. Sepanjang jalan yang terlihat hanya pohon-pohon kering berdebu, rumah-rumah susun tua dan lusuh serta bajaj dimana-mana. Pemandangan yang paling menohok hati adalah banyaknya rumah-rumah kardus gelandangan di pinggir jalan, di tepi selokan atau di lapangan. Saat itu, seingat saya, jarang sekali terlihat mobil-mobil bagus di jalanan…well, it was 8 years ago, sekarang mungkin sudah berbeda, sejalan dengan peningkatan ekonomi India.

JW Marriott Mumbai konon adalah salah satu hotel termewah dan terbaik di Mumbai. Hotel ini dikenal sebagai salah satu tempat kumpul-kumpulnya para sosialita Mumbai. Bahkan kalau sedang beruntung, kita bisa bertemu dengan para bintang Bollywood yang seliweran disana, karena konon diskotik di hotel ini adalah salah satu tempat clubbing favorit mereka. But I was not that lucky at that time…atau mungkin karena saya memang tidak hapal wajah-wajah bintang film Bollywood itu !

Hotel ini sangat besar dan langsung berhadapan dengan Laut Arab. Pekarangan hotel ini juga luas sekali, pintu gerbang depan dijaga dengan sangat ketat oleh petugas keamanan. Nun dibalik pagar tembok depan hotel yang tinggi megah itu, berserakan pengemis-pengemis yang menunggu orang-orang lalu lalang atau keluar masuk hotel sebagai target market mereka. Sebuah kenyataan yang sangat kontradiktif dan ironis, surga dunia dan neraka dunia hanya dipisahkan oleh sebuah tembok pagar pemisah !

Setelah beristirahat sejenak, saya bersama-sama dengan beberapa peserta dari Philippines dan Hongkong memutuskan untuk berjalan-jalan melihat-lihat kota Mumbai dengan menyewa sebuah mobil berikut driver. Ketika sedang menunggu mobil di lobby, salah seorang rekan nyelutuk dengan polosnya “Ini kok langitnya seperti berwarna coklat ya ?” Jiaaahhhh….menurut lu itu apa ? Itu kan debu beterbangan dimana-mana sampai menguap keatas, sehingga langit jadi seperti kecoklat-coklatan…

Ternyata daerah Juhu tempat hotel berada itu berjarak sangat jauh dari pusat kota Mumbai, ya mungkin kira-kira seperti jarak Jakarta-Tangerang, tapi ini diperparah karena kemacetan lalu lintas di hampir banyak tempat dan tidak adanya jalan tol. Selain debu dan macet, satu hal yang membuat saya minta ampun dengan lalu lintas di Mumbai adalah suara klakson yang sahut bersahut, bertalu-talu nyaris tanpa berhenti. Seolah semua orang bernafsu menekan tombol klakson supaya semua yang didepan mereka menyingkir. Hidup disini memang sangat meriah. Tidak hanya polusi udara, tapi juga polusi suara !

Mobil sempat berhenti agak lama di dekat sebuah lapangan karena ada seorang lelaki yang sedang menghalau sapi untuk menyingkir dari jalan raya. Oh ya, sapi atau lembu adalah hewan suci untuk kaum Hindu, yang haram untuk disakiti, apalagi dimakan. Kami semua cekikikan ketika saya nyeletuk bahwa di Indonesia setiap jengkal dari hewan tersebut bisa diolah menjadi makanan yang lezat. Dan cekikikan mereka akhirnya berubah menjadi ekspresi aneh dan jijik ketika saya jelaskan bahwa hidung sapipun bisa dibuat sejenis salad lezat (rujak cingur).

Pemandangan yang terlihat sepanjang jalan dari hotel menuju ke pusat kota Mumbai sungguh sangat “berwarna”. Kami melewati wilayah Santa Cruz, yang sepertinya adalah kawasan peninggalan Katolik disana, lengkap dengan gereja Katolik, asrama siswa, dan gedung-gedung khas peninggalan kolonial. Ada truk yang dihiasi warna warni layaknya hiasan kepala sapi karapan di Madura. Mobil-mobil tua berebut jalan dengan bajaj, sepeda motor dan sepeda ontel. Rumah-rumah susun dengan berbagai bentuk tapi umumnya terkesan lusuh semua. Pasar di beberapa lokasi ramai sekali oleh para penjual dan pembeli, Orang-orang ramai di pinggir jalan dan pastinya para pengemis terselip disana-sini.

Satu hal yang menarik adalah bahwa bajaj disini berukuran kira-kira 2,5 kali lebih besar dari pada bajaj yang ada di Jakarta. Disini dinamakan auto rigshaw. Sepertinya muatannya bisa sampai enam-tujuh orang. Bahkan disaat-saat jam-jam padat pagi atau sore hari, tumpukan manusia di dalam bajaj tersebut seperti ikan sarden didalam kaleng, dengan satu-dua kepala/bagian badan penumpang sudah menjulur keluar dari pintu/jendela bajaj.

Salah seorang rekan perjalanan, Colet, wanita Hongkong yang sangat cosmopolitan dan baru pertama kali datang ke “negeri seperti ini”, selalu terkejut-kejut dengan pemandangan baru yang dia lihat, entah itu truk yang dihias warna warni, bajaj, pengemis yang tiba-tiba menempel di jendela mobil ketika jalan macet, dan lain-lain. Kata-kata “oh my God, what’s is that ???” selalu keluar dari bibir mungilnya bersamaan dengan ekspresi kaget dan takjub !

Di suatu area, mobil terhenti agak lama karena ada kemacetan. Mata saya terpaku melihat ada sesuatu yang bergerak-gerak keluar dari dalam got kering & besar dipinggir jalan. Awalnya saya pikir benda yang bergerak-gerak tersebut adalah hewan, tapi ketika setengah tubuhnya terlihat jelas, oh my God, itu ternyata manusia ! Ada dua orang pengemis remaja dari kaum Paria yang sepertinya baru bangun tidur (di dalam got ?) dan keluar dari got tersebut. Tampilannya compang camping dan warna kulitnya serupa dengan debu di trotoar jalan tersebut.

Mendekati pusat kota Mumbai, ada sesuatu yang menarik perhatian saya. Disana sini berserakan ATM bank-bank asing, jauh lebih banyak dari pada di Jakarta. You name it, segala macam Bank mulai dari Citibank, HSBC, Standard Chartered, Deutsche Bank, dan lain-lain.

Mendekati pusat kota kami mendapati pula banyak sekali bangunan-bangunan gedung tinggi yang masih sedang dalam taraf pengerjaan. Apartemen menengah dan mewah, perkantoran bertaraf internasional, hotel-hotel berbintang dan super mall sedang dibangun saat itu.

Setelah memakan waktu lebih dari 1 jam, akhirnya kami memasuki pusat kota Mumbai. Meskipun tetap dengan ciri khas semrawutnya, namun kawasan pusat kota lebih tertata dan sedikit lebih bersih. Pohon-pohon lebih rindang dan tertata, pedestrian lebih rapi dan suasana terasa lebih civilized. Di beberapa area kami menemukan lapangan-lapangan cricket yang sore itu cukup ramai oleh para pemain cricket yang sedang latihan. Pemandangan menarik ini bersinergi pula dengan bertebarannya gedung-gedung tua sisa kolonial Inggris, sebagian berarsitektur Gothic, yang masih digunakan sebagai perkantoran, salah satunya adalah Kantor Pos Besar Mumbai. Sayang gedung-gedung itu terkesan lusuh dan tidak terawat. Taxi khas kota Mumbai, mobil tua dengan warna hitam-kuning tanpa AC berseliweran disana sini. Semrawut, tapi sedikit lebih civilized dari pada daerah suburb yang kami lewati tadi.

Kami didrop di sebuah gallery yang menjual berbagai souvenir India, termasuk karpet dan rajutan khas Kashmir. Saya lupa nama gallery tersebut dan entah di daerah mana. Harga barang-barangnya jangan ditanya karena mereka memang membidik market turis. Setelah bertanya-tanya beberapa barang, kami keluar dari gallery tanpa membeli apa-apa. Sayup-sayup terdengar backsound sumpah serapah bahasa Hindi dari lelaki penjaga gallery yang tampangnya lebih cocok menjadi preman dari pada penjaga gallery.

Tujuan kami selanjutnya adalah Gate of India di Mumbai. Ini merupakan bangunan bersejarah berbentuk seperti gerbang yang dibangun pada 1924 oleh pemerintahan Inggris. Tempat ini pada awalnya adalah pelabuhan kecil milik rakyat Mumbai yang kemudian dibangun menjadi sebuah gerbang megah sebagai tempat pelabuhan tamu-tamu penting Inggris. Gate of India ini merupakan salah satu atraksi turis utama di kota Mumbai.

Persis di depan Gate of India terletak Hotel Taj Mahal, hotel tua, mewah dan bersejarah di India. Panjang sekali daftar pesohor dunia yang pernah menginap di hotel ini. Hotel Taj Mahal inilah yang beberapa tahun lalu sempat terbakar hebat setelah diserang teroris. Baik Gate of Mumbai maupun Hotel Taj Mahal ini menghadap ke laut lepas Arabia, sehingga memungkinkan para teroris datang dengan perahu dari laut dan dengan mudah menyerang Hotel Taj Mahal.

Ketika kami baru saja tiba di Gate of India, serombongan turis barat tiba pula dengan bus besarnya. Serentak beberapa pengemis berhamburan mendekat ke arah para turis. Melihat gelagat tidak baik tersebut, petugas keamanan berusaha mengusir para pengemis dengan mengibas-ngibaskan rotan besar dan panjang kesana kemari. Waduh, itu kalau kena sabet beneran, sakit dan memarnya lumayan banget tuh !

Driver kemudian membawa kami menyusuri pantai yang ramai di sore hari itu. Kami ditawari untuk turun dan berjalan-jalan di pantai, tapi mengingat hari sudah sore dan pantai sangat crowded, maka kami memutuskan untuk tidak turun.

Dalam perjalanan kembali ke hotel, kami mendapati suasana yang lebih riuh rendah dari pada saat berangkat tadi, karena waktu menunjukkan pukul 17.30 sore, waktunya orang-orang pulang bekerja. Pejalan kaki, sepeda motor, mobil dan bajaj semakin ramai. Di beberapa lokasi kami melihat kereta api melaju kencang, penuh dengan jejalan manusia, sampai duduk diatap-atap gerbong. Colet, si rekan dari Hongkong kembali beraksi dengan teriakan histerisnya “oh my God !”…hmmm sebelum ke India, wanita ini mengaku pernah ke Jakarta, untung dia tidak melihat KRL Jabotabek saat jam-jam padat !

Perjalanan kembali ke hotel ternyata jauh lebih melelahkan karena macet yang dihadapi jauh lebih buruk dari pada saat pergi. Dan kami menghabiskan waktu dengan tidur pulas dihampir sepanjang jalan.

Hari-hari selanjutnya dihabiskan dengan training di hotel mulai pukul 09.00 pagi sampai pukul 18.00 sore. Dan atas pengalaman melelahkan ke pusat kota Mumbai di hari pertama itu, kami memutuskan tidak akan pergi lagi ke pusat kota Mumbai dan hanya berjalan-jalan di area sekitar Juhu dan Santa Cruz.

Pada malam ketiga, kami besama peserta dari Hongkong dan Philippines memutuskan untuk pergi shopping membeli souvenir dan oleh-oleh. Dalam perjalanan keluar masuk toko di daerah Juhu tersebut, kami kerap “diganggu” oleh para pengemis disana. Berbeda dengan pengemis di Indonesia yang hanya berorientasi kepada uang semata, pengemis disana purely mengemis demi survival. Apapun akan mereka terima dengan sukarela. Rekan saya memberikan sekantong kue miliknya dan para pengemis langsung berebut memakan kue tersebut. Lain waktu, seorang pengemis wanita mendekati saya dan melihat kepada botol air mineral yang saya bawa. Air mineral yang masih penuh terisi tersebut saya berikan kepada dia dan diapun mengambilnya dengan bersemangat. They just simply have nothing, except life !

Di lain waktu, seorang wanita mendekati pria pelayan toko tempat kami berbelanja dan bercakap kepada pria tersebut. Si pria kemudian menggelengkan kepala dan si wanita ngeloyor pergi tanpa ba-bi-bu lagi. Menangkap moment menarik tersebut, saya langsung bertanya kepada si palayan toko, apa yang dibicarakan si wanita ? Rupanya wanita tersebut minta makan karena dia sudah 2 hari tidak makan dan si pelayan tidak punya makanan yang bisa diberikan.

Ketika film Slumdog Millionaire melejit pada tahun 2008 lalu, saya déjà vu melihat para pengemis-pengemis cilik di film itu.

Disamping sisi gelap kemiskinan dan kesengsaraan, India adalah surga belanja untuk para wanita penggemar barang-barang etnik. Beberapa rekan wanita tampak kalap berbelanja kain sari yang kata mereka sangat bagus-bagus dan relatif murah. Mereka juga kalap berbelanja souvenir dan hiasan rumah khas India.

Ketika kami berjalan kaki kembali ke hotel, kami menemui bermacam ragam pemandangan menarik yang mungkin hanya ditemukan di India. Di satu pojokan, kami mendapati seorang wanita dengan anak lelakinya sedang berdoa dengan beberapa titik api menyala di depannya. Negeri ini memang bangga mengklaim diri sebagai bangsa yang relijius dan itu terlihat dari kuatnya pegaruh agama Hindu di setiap sisi kehidupan dan kenegaraan India.

Di sebuah rumah susun sederhana, kami melihat sekelompok seniman sedang latihan musik tradisional India dengan ritme gendang yang membuat tubuh ingin ikut serta bergoyang-goyang.

Pada malam terakhir, saya berjalan kaki ke sebuah pasar kecil yang memiliki beberapa toko souvenir kecil. Saya berhenti di sebuah toko souvenir kecil dan terpesona oleh keindahan raga dari gadis 18 tahun yang berjualan disana. Mengenakan baju biru khas India, kulitnya putih bersih, wajahnya sempurna dengan gigi putih rapi dan bola mata besar berwarna hijau. Gadis itu cerdas dan bahasa Inggrisnya sempurna untuk ukuran penjual toko. Sambil bertransaksi beberapa souvenir untuk dibawa pulang, kami bercakap-cakap dan saya mendapati bahwa dia adalah gadis muslim dari Kashmir di India Utara. Dia pindah ke Mumbai karena perang yang terus menerus di desanya dan ingin mengadu nasibnya dengan mengikuti abangnya yang adalah pemilik toko itu.

Training yang dijalani akhirnya selesai sudah dan tiba waktunya saya pulang kembali ke Jakarta. Berbeda dengan saat ketibaan saya beberapa hari sebelumnya, malam itu ketika saya tiba di airport, suasana di airport sangat ramai dan meriah luar biasa. Satu orang penumpang bisa diantar oleh 7 orang anggota keluarnya dan proses perpisahan bisa mengharu biru penuh air mata. Ketika sedang pemeriksaan x-ray sebelum masuk check-in hall, barisan saya tersendat agak lama dan saya mendapati bahwa penyebab barisan tersendat adalah seorang wanita yang akan pergi dan masih terus menerus berdiri melambaikan tangan kearah keluarganya diluar sambil berurai airmata….oouuuww Bollywood movie is live here !

Ketika sedang check-in, lelaki petugas bandara yang bertampang nyinyir membolak balik paspor saya berkali-kali. Dia lalu bertanya “are you going to stop in Singapore ?” karena melihat bahwa saya akan menginap semalam di Singapore. Ketika saya jawab “yes”, dia kembali bertanya “but you don’t have Singapore Visa huh ?”. Terpaksa saya jelaskan bahwa Singapore itu bebas masuk bagi pemegang paspor Indonesia. Dia masih belum terpuaskan dan masih ngeyel “are you sure ?”. Karena jengkel, saya suruh saja dia melihat stempel imigrasi Singapore yang tertera di paspor saya, tanpa sama sekali ada visa Singapore di paspor tersebut. Ente kira sini orang India yang kemana-mana butuh visa ?

Suasana ruang keberangkatan di airport sangat suram dan lumayan kotor. Sialnya, pesawat yang akan saya tumpangi terlambat datang dari Singapore, yang berujung kepada terlambatnya keberangkatan saya sampai 2 jam. Pesawat baru take-off ketika jarum jam sudah melewati angka 00.00 dan saya terlelap tidur di sepanjang penerbangan *do not disturb mode on*

Itulah sepotong cerita yang tersisa dari perjalanan saya ke Mumbai 8 tahun silam. Kota yang penuh warna dan cerita, ketika energi dan semangat hidup penuh kegigihan penduduknya seakan menutupi penderitaan dan kesengsaraan yang merajalela. Para pengemis cilik itu tak pernah tersenyum karena mungkin mereka memang tidak tahu cara tersenyum semenjak mereka lahir di rumah-rumah kardus di balik sesaknya kota Mumbai.

Ketika pesawat Singapore Airlines menjejakkan rodanya di bandara Cengkareng, saya merasa bersyukur bahwa Tuhan mentakdirkan saya dilahirkan dan dibesarkan disini. Baru kali itu saya tidak merasa sumpek ketika kembali dari luar negeri…