Sabtu, 02 November 2013

MAROC [2010] #4 : Eksotisme Marrakech


Marrakech adalah tujuan utama saya ke Marokko. Dari berbagai rekomendasi yang saya lihat dan baca, kota ini memang eksotis dan menarik untuk didatangi. Perlu diingat bahwa kota Marrakech bukanlah kota maju dengan segala fasilitas yang wah dan gedung-gedung pencakar langit. Kota ini hanyalah sebuah kota kecil yang memiliki peninggalan sejarah, seni dan budaya dengan berbagai atraksi di dalamnya. Lupakan gemerlap kota besar karena hal itu tidak ada disini, dan dalam kenyataannya banyak penduduk disini yang hidup dalam garis kemiskinan.

Sebelum berangkat saya sudah mengumpulkan semua informasi tentang Marrakech, termasuk peta kotanya. Tapi jujur, sampai sebelum saya menginjakkan kaki di Marrakech, saya masih kesulitan mengumpulkan puzzle tentang kota ini. Dari foto-foto yang ada di website, gambaran yang melekat di benak saya adalah kota tua semrawut layaknya perkampungan besar. Gambaran tersebut ternyata tidak benar, tapi juga tidak salah.


Ketika mobil yang saya tumpangi dari airport membawa saya memasuki kota Marrakech, yang tampak memanglah sebuah kota tua yang agak gersang. Mobil-mobil yang berseliweran rata-rata adalah mobil butut, sementara di beberapa spot tampak kendaraan sejenis andong dan juga gerobak yang ditarik kuda. Disalah satu belokan, trotoarnya penuh dengan tumpukan gerabah yang dijual oleh para pengrajin. Kota ini sungguh unik ! Saya berasa seperti berada di dunia lain.



Pemandangan pertama ketika mobil memasuki kota Marrakech adalah jalanan dengan tembok tinggi di kanan kirinya, yang ternyata itu adalah istana raja. Ya seperti daerah pinggiran keraton Jogja, tapi bedanya di Marrakech tembok-temboknya berwarna merah bata dan terkesan lebih modern.


Saat memesan penginapan ketika masih di Jakarta, saya agak kesulitan mencari hotel yang berlokasi strategis di Medina dan masuk ke dalam budget saya. Banyak hotel yang penuh. Sepertinya saat itu adalah peak season turisme disana.

Karena melihat film dokumenter dari NatGeo tentang Riad (old grande house yang dijadikan semacam butik hotel oleh pemilik-pemiliknya) maka sayapun tergoda dan membooking kamar di sebuah Riad di daerah Medina tanpa memahami lingkungan di sekitar Riad itu seperti apa. Di Marrakech bertaburan puluhan, mungkin sampai seratusan Riad dengan tarif mulai dari sekitar 500 ribu Rupiah sampai sekitar 7 jutaan Rupiah semalamnya. Semua tergantung lokasi, fasilitas dan kemewahan yang ditawarkan.


Pagi itu saya menuju ke Riad yang telah saya pesan untuk menginap selama 2 malam. Mobil taxi penjemput saya meninggalkan jalan raya, masuk ke dalam gang-gang sempit yang merupakan daerah perumahan. Di kanan kiri gang sempit ini terdapat rumah-rumah tua, penuh sesak dan berliku-liku. Perjalanan benar-benar mblusuk-mblusuk, tanpa ada panduan arah jalan. Si supir menguasai medan karena dia sudah familiar dengan lingkungan ini. Beberapa kali mobil berpapasan dengan gerobak atau mobil lainnya dan saling mengatur papasan karena jalan yang dilalui lumayan sempit.

Saya mulai terperangah ketika melewati sebuah kandang kuda diantara perumahan padat itu. Bayangkan, dengan rumah dempet-dempet begitu masih pakai kandang hewan pula terselip diantaranya. Saya tidak bisa bertanya apapun kepada si supir karena dia tidak bisa berbahasa Inggris sama sekali, kecuali kata “thank you”.

Setelah berbelok-belok di gang-gang padat seperti di film-film Indiana Jones, mobil akhirnya berhenti didepan sebuah rumah yang sangat tertutup dari luar. Hanya terdapat sebuah pintu kayu besar, tanpa ada tulisan nama penginapan tersebut. 

Setelah si supir mengetukkan bell manual dari besi tua, pintupun dibukakan dari dalam. Ternyata dibalik pintu kayu besar itu terdapat bangunan 3 lantai yang cukup besar dengan taman kecil di bagian tengahnya. Kamar-kamar para tamu Riad terdapat di lantai 1 (mengitari taman) dan 2. Sementara lantai 3 digunakan untuk sebagai upper deck terbuka, tempat bersantai dengan sofa-sofa santai.

Begitu pintu kayu besar itu ditutup, suasana langsung senyap, sangat kontradiktif dengan hingar bingar perkampungan di luar sana. Riad yang saya tinggali adalah milik seorang warga negara Perancis yang juga menjadi pengelolanya.

Riad ini nyaman, suasananya homey dan berdesain mediteranian. Kamarnya berukuran 6x6 meter, dengan private bathroom di masing-masing kamar. Siang itu saya beristirahat sejenak untuk mengumpulkan energi sebelum mulai mengeksplor kota ini.

Ketika saya akan pergi, petugas Riad memberikan kartu nama Riad dengan alamatnya sebagai bekal kalau-kalau kesasar nantinya.

Begitu keluar dari pintu Riad, yang ada saya kebingungan. Riad ini terletak di tengah-tengah pekampungan dengan gang-gang yang berbelok dan bercabang kesana kemari, bertemu dengan kandang domba, pasar kecil dan lain-lain.

Baru saja saya berjalan beberapa meter menyusuri jalanan di perkampungan padat itu, saya dikejar dua orang anak kecil setempat yang langsung menadahkan tangannya di kanan kiri saya. Bingung harus bagaimana, lagipula saya tidak punya uang koin saat itu, jadi saya cuekin saja bocah-bocah cilik itu.

Dibelokan pertama terdapat sekelompok anak-anak sedang bermain-main. Tiba-tiba salah seorang berbicara dalam bahasa Arab dan mereka semua melihat kepada saya. Fisik saya yang berbeda dari mereka ditambah atribut topi dan tas kamera mendeklarasikan bahwa saya adalah turis. Tiba-tiba saja mereka semua menyerbu saya, menadahkan tangan dan mengikuti saya beberapa meter sampai mereka bosan sendiri.

Kemiskinan memang menjadi salah satu isu utama di Maroko. Dari seorang teman yang sempat pergi ke Tangier saya mendapat cerita bahwa disana dia secara brutal ditawari jasa prostitusi gadis-gadis lokal.

Saya betul-betul tidak tahu arah saat itu. Tidak ada penunjuk arah, tidak ada nama jalan/gang tersebut. Saya hanya mengikuti intuisi saya saja, mengarah ke tujuan dimana banyak kendaraan menuju karena dalam logika saya kendaraan tersebut pasti menuju ke jalan besar.

Disaat berjalan-jalan menyusuri sebuah gang kecil, saya mendapati sebuah masjid tua yang tersembunyi dibalik dua buah rumah didepannya. Masjid tersebut sangat indah, dengan ornamen-ornamen keramik tua bercorak bunga-bunga berwarna biru dan hijau. Baru saja saya memasuki pekarangan kecil masjid, saya mendengar teriakan dari arah belakang saya. Seorang lelaki muda mendekati saya dan berkata “taking picture is not allowed”. Ok saya mengerti, lalu menyimpan kembali kamera saya. 

Lelaki itu kemudian mengoceh bercerita tentang masjid itu, termasuk sejarahnya. Dari dandanannya, celana jeans dengan t-shirt lusuh dan sepatu kets, tidak mungkin dia pengurus masjid. Sampai ketika dia memperbolehkan saya memotret masjid dan menawarkan saya untuk mencopot sepatu dan masuk ke dalam masjid, saya baru sadar bahwa laki-laki ini adalah tour guide gelap. Sangat besar kemungkinan dia memalak saya dengan tarif tinggi ketika dia sudah selesai mendongeng tentang masjid ini. Saya langsung menolak dengan halus dan berkata saya harus pergi, tapi dia tetap ngotot dan saya juga tidak mau kalah ngotot untuk pergi. Tiba-tiba dia bicara “ok, now give me one hundred dollar”…sayapun kaget dan bertanya untuk apa ? Dia menjawab dengan enteng “for tourist services and entrance charge to this mosque”. Walah….tanduk saya langsung muncul dan menjawab “did I ask you to explain to me about this mosque ?” lalu saya timpali lagi “hey I am moslem too, now tell me how come you charge people to pay entrance fee to enter a mosque ?” Tapi sepertinya dia tidak begitu paham pertanyaan saya dan dia tetap pasang muka pengin ditonjok. Saya hanya khawatir dia akan bertindak nekad, berteriak bahwa saya pembuat onar di masjid atau sejenisnya dan saya akan jadi bulan-bulanan orang orang sekampung yang berbahasa alien ini. Maka saya kasih saja uang seadanya sebagai simpati atas keadaan di kampung tersebut. Saya sudah bersiap kalau dia ngotot tetap minta seratus dollar. Tapi ternyata dia hanya diam saja. Dia sudah senang dengan uang 200 Dirham (setara USD 20) yang saya berikan.

Saya lalu mendapati sebuah pasar yang cukup ramai, saya yakin ini sudah dekat ke jalan raya. Saya terus berjalan mengikuti arus kendaraan yang ramai mengarah. Ternyata saya keluar di sebuah terminal bus, entah apa namanya.

Begitu saya keluar dari labirin itu dan menemukan jalan raya besar, rasanya lega luar biasa ! Saya menyempatkan membeli sandwich dulu di sebuah restoran kecil dekat terminal bus sebelum menlanjutkan perjalanan.

Saya lalu mencegat sebuah taxi dan tawar menawar terjadi untuk menuju ke masjid Koutoubia. Disini sepertinya kudu nekad menawar, karena seperti orang-orang disini akan mematok harga tinggi karena status sebagai turis.

Begitu saya berjalan memasuki area masjid tua Koutoubia, seorang laki-laki muda berlari ke arah saya dan menawarkan jasa guide untuk menjelaskan tentang masjid. Tapi saya tolak dengan halus karena saya tidak memerlukannya.


Di area masjid Koutoubia siang itu ada beberapa turis lainnya, ada serombongan anak muda sepertinya orang Philippines yang sibuk dengan kamera-kamera besar mereka. Disini juga ada beberapa orang lelaki suku Berber yang memakai baju tradisional sukunya sambil berjualan air minum. Mereka juga bersedia untuk difoto atau diajak foto bersama. Tapi tunggu dulu, kalau mau memoto mereka ada tarifnya ! Dan seperti biasa bisa ditawar.

Dari Koutoubia saya menuju ke stasiun kereta api Gare de Marrakech untuk membeli tiket kereta api  kembali ke Casablanca 3 hari kedepan. Dalam perjalanan menuju ke stasiun tersebut saya menemukan sisi lain kota Marrakech ini yang ternyata bukan cuma kampung tua dan besar saja. Ada sisi kota baru dan modern. Ada area yang sangat asri, bersih dan rapi, penuh dengan rumah-rumah besar dan bagus-bagus, serta terdapat hotel-hotel besar yang berdampingan dengan rumah-rumah tersebut.
Mendekati area stasiun Gare de Marrakech terdapat wilayah pertokoan yang cukup vibrant and modern. Ada beberapa toko dengan merk internasional berjejer di jalanan yang penuh dengan pohon rindang ini.




Ternyata area di sekitar stasiun ini memang kota baru yang vibrant. Stasiunnya sendiri tergolong bagus dan sepertinya baru direnovasi. Terdapat banyak café dan restoran di samping stasiun. Banyak tampak ada beberapa apartemen baru di depan stasiun, menandakan kehidupan kamu urban yang tumbuh subur ke wilayah ini. Di area inilah warga Marrakech mencari suasana lain, suasana kehidupan modern dan western. Mereka duduk-duduk, makan-makan dan ngopi-ngopi dengan dandanan yang sangat western. Turispun banyak berseliweran disekitar sini.

Saya kembali ke Riad disaat hari mulai senja. Awalnya saya berharap supir taxi akan mengantarkan sampai ke depan pintu Riad, tapi ternyata dia berhenti disalah satu gang dan memberi tahu saya untuk jalan saja kedalam, nanti akan menemukan Riad tersebut. Petualangan di labirin kembali dimulai.

Senja itu saya melihat beberapa rumah hanya memiliki penerangan seadanya, hanya satu bola lampu dengan watt rendah yang memendar dari rumah yang pintunya  terbuka. Selain itu saya juga mendapati beberapa rumah yang ternyata didalamnya lebih rendah dari jalan di depan rumah tersebut.

Untuk menginap dan survive di Riad ini membutuhkan upaya ekstra untuk menghapal tanda-tanda, baik itu belokan, jumlah belokan, rumah-rumah unik atau tanda-tanda lainnya dari dan menuju ke Riad. Bermodal tanda-tanda itulah saya tidak kesasar senja itu.

Kesulitan lain di Marrakech adalah bahasa, karena disini semua petunjuk dan lain-lain hanya berbahasa Arab atau Perancis. Ada bahasa Inggris tapi hanya di area-area tertentu.

Malam itu di Riad suasana sangat senyap, hanya terdengar suara ketawa-ketawa dari kamar-kamar lain. Mau nonton TV, ternyata channelnya lokal semua yang pastinya saya nggak mudeng bahasanya. Mau pergi keluar lagi, kans untuk saya kesasar bablas kemana-mana dalam kegelapan akan sangat besar sekali.

Keesokan paginya sarapan pagi dengan menu sederhana American Breakfast yang disediakan di ruang makan di Riad. Saya bergabung dengan tiga orang turis asal Lyon yang sudah 4 hari di Marrakech, yang untungnya berbahasa Inggris dengan baik. Obrolan seru karena salah seorang dari mereka berprofesi sama dengan saya, lalu salah seorang dari mereka pernah ke Bali. Mereka heran, kenapa saya jauh-jauh pergi ke Maroko, dengan alasan negara yang eksotis karena buat mereka Indonesia adalah negara indah dan eksotis. Saya jawab singkat saja, kalau kalian hidup di satu tempat terus menerus, tentunya kalian ingin melihat sesuatu yang baru dan berbeda, bukan ? Karena defini eksotis bisa jadi berbeda untuk setiap bangsa. Mereka mengangguk, entah setuju atau apa.

Kami lalu bertukar cerita tentang pengalaman masing-masing di Marrakech. Saya bercerita tentang apa yang saya alami kemarin ketika dikejar-kejar anak-anak meminta uang dan bertemu pemalak yang menyamar jadi tour guide. Mereka lalu bercerita tentang pengalaman mereka makan malam di food stall di Djemaa El Fna, yang harganya tidak standar, hitungan matematis tidak berlaku disana. Semau-mau si penjual saja. Di satu tempat makan memberi camilan gratis, di sebelahnya mencharge dengan harga mahal.

Salah satu dari mereka lalu bercerita pengalamannya membeli orange juice dari penjual buah, masih di Djemaa El Fna. Disana buah jeruknya memang segar-segar dan enak. Awalnya penjual menyebutkan harganya 4 Dihram, tapi ketika selesai membuat jus, si penjual menyebutkan harganya adalah 4 Dollar ! Entah si penjual slip of tounge menyebut 4 Dirham, tapi beda nilainya sepuluh kali lipat itu !

Saat sedang sarapan, pelayan Riad menuangkan susu hangat ke cangkir saya. Katanya itu susu domba segar dari tempat domba di dekat Riad. Oh, ternyata banyak peternakan hewan-hewan diantara perumahan padat ini. Saya penasaran karena seumur-umur belum pernah minum susu domba sama sekali, maka langsung saja ditenggak. Rasanya segar, creamy dan enak sekali. Habis dua pertiga cangkir, lalu saya memakan sisa roti sambil terus mengobrol dengan ketiga orang tersebut. Ketika saya akan minum sisa susu yang masih tersisa dan sudah dingin, aroma yang tercium dari cangkir itu adalah amis luar biasa. Waduh ! ternyata susu segar itu harus diminum hangat-hangat karena begitu dingin baunya amis tidak karuan.

Demi mencari suasana yang berbeda dari kota Marrakech, ingin merasakan vibrant kehidupan modern kota barunya, maka pada malam ketiga saya pindah ke hotel Sofitel Marrakech yang terletak tidak jauh dari Djemaa El Fna.

Hotel ini sangat chic, desainnya penuh dengan ornamen khas Maroko, baik langit-langit lobby, dinding lobby dan pintu liftnya. Servisnya pun sangat baik dan staffnya cekatan, sangat berbeda dengan hotel yang saya inapi di Casablanca maupun di Riad sebelumnya. Saya sangat terpesona dengan kecantikan para staff frontline hotel yang semuanya berbahasa Inggris dengan baik, selain Arab dan Perancis. Bahkan saya mendapati salah seorang dari mereka berbicara fasih bahasa Spanyol kepada turis dari Spanyol. Dari seorang teman yang tinggal di Eropa saya mendapatkan informasi bahwa di Eropa memang dikenal wanita-wanita Maroko ini cantik-cantik.

MAROC [2010] #3 : Menuju Marrakech


Pagi itu saya terbangun jam 4 pagi waktu Casablanca (masih jetlag karena waktu Jakarta 7 jam didepan, yang berarti sudah jam 11 siang). Karena tidak tahu apa yang harus dilakukan pagi buta itu, saya akhirnya sibuk chatting dan berbbm-an dengan teman-teman di Jakarta sambil menunggu waktu Subuh dan matahari naik.

Tepat pukul 7 pagi, saya sudah berada di cafe hotel untuk sarapan dan segera langsung check-out setelahnya. Udara pagi itu sekitar 11 derajat Celcius, sangat sejuk dan segar.

Tujuan selanjutnya adalah menuju ke Marrakech, pusat wisata Maroko yang kaya akan sejarah, budaya dan atraksi menarik lainnya. 

Ada banyak pilihan moda transportasi untuk rute Casablanca - Marrakech, mulai dari yang murah meriah sampai mahal : 

  • Naik Bus Antar Kota : ada dua jenis bus, nonstop AC dengan jarak tempuh 4 jam atau bus ekonomi yang mungkin berjarak tempuh 5 jam lebih. 
  • Kereta Api : kereta dari Casa Voyageurs menuju Marrakech berangkat hampir setiap 2 jam sekali, dengan waktu tempuh selama 4 jam. Tarif tiket untuk Kelas 1 sekitar MAD 140 (sekitar 150 ribu Rupiah). 
  • Pesawat Udara : pastinya merupakan pilihan paling praktis dan paling cepat. Sayangnya lalu lintas udara domestik Maroko dimonopoli oleh Royal Air Maroc, national flag carrier mereka, tanpa ada pesaing dari airlines lainnya, sehingga tarif tiket tidak kompetitif karena tidak adanya persaingan. 
Karena alasan efisiensi dan keterbatasan waktu, saya pakai moda transportasi pesawat saja. Meskipun untuk itu, saya harus merogoh dompet dan membayar hampir 8 kali lipat dari harga tiket kereta api.

Supir grande taxi yang membawa saya ke airport pagi itu hanya bisa berbahasa Arab dan sedikit bahasa Perancis. Akibatnya terjadi kendala komunikasi diantara kami. Beberapa kali dia mencoba membuka percakapan, tapi saya sama sekali tidak mengerti apa yang dia maksudkan, sehingga komunikasi menjadi kacau. Akhirnya dia seperti frustasi sendiri dan diam membisu sampai taxi tiba di airport.

Seperti sudah saya jelaskan di tulisan sebelumnya, airport Mohamed V adalah airport tua yang mengingatkan saya akan Halim Perdanakusumah atau Kemayoran. Akan tetapi di beberapa bagian airport sudah direnovasi sehingga terasa lebih modern, misalnya area check-in. Papan pengumuman keberangkatan/kedatangan mengingatkan saya akan airport Charles de Gaulle di Paris. Mohamed V adalah nama raja mereka sebelum raja yang sekarang.

Hubungan Maroko, sebagai bekas jajahan, dengan negara Perancis sepertinya sangat harmonis. Ada banyak penerbangan Air France ke berbagai kota di Paris, semisal Paris, Lyon dan Marseille.

Setelah kewajiban ngopi pagi hari sudah terselesaikan, saya lalu menuju ke ruang keberangkatan. Sebelum pemeriksaan x-ray, saya dicegat oleh seorang security dan meminta paspor saya. Ketika dia lihat saya adalah orang Indonesia, reaksinya adalah “aaahhh…Indonesian, salam !”. Dia lalu menyalami saya, memegang bahu saya dan mengantarkan saya ke pintu pemeriksaan x-ray. Saya tersanjung mendapat perlakuan seperti itu di negeri orang.

Nama Indonesia memang harum di Maroko, hal ini terkait sejarah masa lalu ketika Indonesia berinisiatif menggelar Konperensi Asia Afrika tahun 1955 dan Presiden Sukarno menjadi pendorong merdekanya beberapa negara di Afrika di saat itu. Rue Soekarno di kota Rabat adalah nama jalan untuk menghormati jasa beliau terhadap perjuangan bangsa Afrika.

Tepat waktunya, penumpang dibawa dengan bus menuju pesawat Boeing 737-800 yang sudah stand-by. Begitu masuk ke dalam pesawat, yang tedengar adalah musik Arab berjenis Lounge Music yang sangat easy listening. Pesawat sangat sepi, mungkin hanya sekitar 20% dari load factor. Hampir semua adalah turis, mayoritas ras Caucasian.

Pengumuman di dalam pesawat dilakukan dalam 3 bahasa berturut-turut : Perancis, Arab & Inggris.

Pilot yang menerbangkan pesawat pagi itu adalah seorang wanita bernama Mrs. Bennaida (saya tidak yakin penulisan nama ini benar karena saya menulis hanya berdasarkan pendengaran saja). Dia mengumumkan bahwa pesawat akan mengalami keterlambatan karena menunggu kedatangan penumpang transit yang akan segera boarding.

Sambil menunggu, salah seorang pramugari asyik mengobrol dengan para penumpang. Saya sangat terpesona dengan kecantikan para pramugari yang bertugas di penerbangan pagi itu.








Setelah menunggu selama setengah jam, penumpang yang ditunggu-tunggupun masuk ke pesawat. Ternyata mereka adalah rombongan jemaah Umroh asal Marrakech yang baru landing dari Jeddah pagi itu.

Mendadak pesawat menjadi ramai dan suasana menjadi riuh rendah. Layaknya
penumpang rombongan di Indonesia yang jarang naik pesawat, kejadian serupa terjadi pagi itu. Mulai dari kebingungan mencari tempat duduk, luggage bin yang penuh sementara mereka masih punya bawaan yang akan dimasukkan, tidak mau menaruh tas kalau bukan di luggage bin diatas kepala mereka dan ada yang tidak mau duduk terpisah dari anggota keluarganya. Sebagian besar jemaah Umroh ini berusia mungkin diatas 50an.

Kalau kita orang Indonesia sudah terbiasa dengan situasi seperti itu, tapi beberapa penumpang bule sampai terbengong-bengong dengan atraksi penuh kegaduhan tersebut.

Para awak kabin akhirnya turun tangan membantu menempatkan tas-tas mereka. Mereka juga menginstruksikan semua penumpang jemaah Umroh untuk duduk bebas dimanapun asal kursi itu kosong karena pesawat sudah akan berangkat.

Penerbangan ini sangat singkat, hanya sekitar 25 menit menyisir pantai laut Atlantik. Sesaat sebelum mendarat di Marrakech, sejauh mata memandang dari atas, yang tampak adalah tanah tandus berwarna coklat.

Pilot Bennaida mengemudikan si Boeing 737-800 dengan sangat baik dan landing yang sangat mulus.

Saya benar-benar terbengong-bengong ketika memasuki bagian dalam Menara Airport di Marrakech ini, karena desainnya yang sangat bagus dan unik ! Saking takjubnya, saya terus menerus menjepret-jepretkan kamera saya mengabadikan desain bagus airport ini. 

Sambil menunggu taxi penjemputpun, saya masih asyik memotret. Sampai ketika seorang lelaki turis bule menghampiri saya dan berbisik “you better be careful, because I was just asked by security officer not to take picture inside the airport”, saya baru memasukkan kamera saya ke dalam tas. Sambil menunggu penjemput tiba, saya berkeliling di airport yang kecil tapi chic ini. Di salah satu pojokan Departure Hall terdapat counter art & culture Maroko, dimana disana dipertunjukkan hasil karya seni rakyat Maroko dan juga ada pertunjukan musik tradisional Maroko.



MAROC [2010] #2 : Casablanca, Tak Seromantis Filmnya


Kalau anda pergi ke Casablanca dengan gambaran yang ada di kepala adalah indahnya romantisme seperti yang ada di film romantis klasik “Casablanca” yang dibintangi Inggrid Bergman dan Humphrey Bogart, maka bersiaplah untuk kaget dan kecewa berat.


Casablanca dalam kenyataannya bukanlah kota romantis seperti yang seolah terlihat di kisah film klasik tersebut. Casablanca dalam kenyataannya sekarang adalah kota maju (untuk skala Maroko), kota industri dan kota pelabuhan. Di kota ini bertaburan bangunan-bangunan tinggi gedung perkantoran, apartemen, hotel dan flat dengan jembatan layang dan jalan tol di beberapa bagian kota. Bagi para turis, kota ini betul-betul hanya kota transit karena tidak banyak yang bisa dilakukan dan dilihat disini. Kalau seandainya perjalanan Jakarta – Casablanca tidak terlalu jauh dan melelahkan, mungkin opsi ganti pesawat dan langsung terbang dari Casablanca menuju ke Marrakech adalah pilihan yang terbaik, tanpa perlu menginap di Casablanca.


Saya menginap di Hotel Barcelo, sebuah chain hotel bintang 3 dan 4 dari Eropa. Lokasinya berada di Boulevard d’Anfa, business area di Casablanca. Dari sini  saya dapat berjalan kaki ke obyek turisme utama kota, yaitu Masjid Hassan II. Saya check-in di hotel sekitar jam 1 siang dan langsung beristirahat, meluruskan badan ditempat tidur !


Saat saya menginap di hotel ini, kondisi hotel masih bisa dibilang baru, semua bersih, rapi dan wangi.  Wifinya pun luar biasa kuat signalnya. Satu-satunya kekurangan hotel itu adalah staffnya yang semuanya bermuka lempeng seperti robot, tanpa senyum dan memberikan servis seperti ogah-ogahan.

Dari petugas front office hotel ini saya mendapatkan pengetahuan tambahan tentang Maroko. Disini ketika seorang anak masuk sekolah sampai lulus SD mereka akan belajar bahasa Arab secara penuh dan ketika mereka masuk SMP sampai perguruan tinggi mereka akan belajar dalam bahasa Perancis. Begitulah cara bangsa Maroko mempertahankan kehidupan bi-lingual mereka. Bahasa sehari-hari adalah bahasa Arab, sementara bahasa Perancis digunakan untuk keperluan formal dan bisnis.

Setelah istirahat sekitar 1,5 jam dan mengisi perut, saya mulai mengeksplor daerah sekitar hotel. Sekeliling hotel ini hanya blok-blok bangunan perkantoran dan perumahan. Sekilas ada kemiripan antara kota ini dengan Mumbai, hanya saya disini lebih bersih dan manusianya lebih sedikit. Sekitar dua blok dari hotel saya terdapat area perkantoran yang baru dengan beberapa gedung yang sangat modern, lengkap dengan super mallnya.

Dengan berpedoman kepada peta yang ada ditangan, saya berjalan kaki menuju ke Masjid Hassan II. Jarak hotel dan masjid tersebut bisa ditempuh dalam 15 menit jalan kaki, tapi karena saya jalan kaki santai sambil mengamati suasana disekitar, waktu yang saya tempuh sekitar 30 menit. Rute yang saya lewati awalnya kebanyakan adalah toko-toko, flat atau perkantoran skala menengah, mayoritas berada di bangunan-bangunan tinggi. Disepanjang jalan banyak sekali ditemukan toko-toko kelontong milik perorangan yang masih terkesan klasik, layaknya toko-toko kelontong disini sebelum menjamurnya bisnis minimarket waralaba.

Suasananya agak gersang, jarang pepohonan di antara gedung-gedung tersebut. Meskipun matahari memancar dengan teriknya tapi angin yang berhembus dingin, sehingga jalan kakipun bisa dinikmati.


Semakin jauh dari hotel, pemandangannya bukan lagi gedung-gedung tinggi, tapi merupakan rumah-rumah dua lantai, yang dilantai bawahnya adalah restoran atau toko atau kantor. Ya sejenis ruko begitu, tapi ini adalah bangunan-bangunan tua. Juga mulai tampak banyak pohon-pohon palem besar di sepanjang jalan.

Saya mengamati ada laki-laki tua duduk melamun di bangku taman sambil merokok, di seberangnya ada anak-anak sedang kejar-kejaran. Sementara sekelompok remaja ngebut-ngebutan dengan motor mereka.

Bangsa Maroko merupakan campuran antara bangsa keturunan Arab dan suku Berber, tapi orang Maroko sendiri konon ogah disebut orang Arab.

Setelah berjalan sekitar 15 menit dengan kecepatan santai, menara masjid Hasan II mulai tampak dari kejauhan. Didaerah ini, tampak beberapa lahan kosong, ada yang digunakan sebagai tempat menumpuk sampah kering, ada pula yang digunakan sebagai tempat menjemur pakaian oleh warga sekitar.


Masjid Hassan II yang konon adalah masjid nomor 7 terbesar di dunia ini memang terlihat megah dari kejauhan. Dengan posisi berdiri sendiri berlatar belakang Laut Atlantik membuat masjid ini sangat stunning.

Ketika mendekati masjid ini, saya berdecak kagum atas keindahan arsiteknya. Masjid ini dibangun dengan arsitektur khas Maroko. Semua detil dikerjakan dengan apik. Terdapat ornamen-ornamen yang sangat bagus hampir di semua bagian masjid, baik itu di pintu masuk, di dinding, bahkan di tempat air tempat wudhu utama. Lampu gantung yang terdapat di teras masjidpun sengat nyeni dan sesuai dengan tema masjid. Secara keseluruhan masjid ini memang megah. Tetapi dari beberapa sumber yang sempat saya baca sebelum berangkat, masjid yang menelan biaya sekitar USD 700 juta ini mengundang kontroversi mengingat Maroko adalah negara miskin yang membutuhkan dana untuk pembangunan hal-hal vital yang lebih penting.

Saya tidak menyia-nyiakan kesempatan baik ini untuk berkeliling. Beberapa bagian yang agak tinggi, seperti ventilasi besar di bagian atas ternyata digunakan oleh burung-burung Merpati untuk membuat sangkar dan membesarkan anak-anaknya disana. Arah belakang masjid ini adalah laut Atlantik, yang siang dan sore itu lumayan besar ombaknya. Angin dingin yang ditiupkan lumayan membersihkan paru-paru.



Selain menjadi tempat ibadah, masjid sepertinya juga menjadi tempat wisata penduduk sekitar. Banyak sekali keluarga dan anak-anak muda yang datang kesana, ada yang duduk-duduk saja, ada keluarga yang makan-makan di pinggiran masjid, ada remaja yang ngobrol, becanda dan kejar-kejaran di lapangan luar masjid dan ada pula yang duduk-duduk menghadap ke laut lepas.


Di pantai berbatu disamping masjid ada segerombolan anak-anak usia 12 tahun mencebur ke laut dan berenang-renang. Dinginnya kayak apa itu ????

Saya kembali ke hotel menyusuri jalanan semula yang saya lewati tadi. Salah satu bangunan yan dilewati tidak jauh dari masjid Hassan II adalah sebuah rumah sakit yang cukup besar. Sore itu di pinggir jalan depan rumah sakit itu ada pertengkaran mulut hebat antara dua keluarga besar yang sedang bertikai. Ada sekitar 20 orang didalam dua kelompok tersebut. Seorang wanita berusia sekitar 50an sepertinya menjadi komandan keluarganya, marah-marah berteriak-teriak dengan suara yang sangat lantang, sambil berkacak pinggang dan menuding-nuding pihak satunya. Sementara dipihak lainnya, lelaki setengah baya meladeni ucapan si ibu tersebut dengan sengitnya. Anggota keluargapun sesekali ikut nimbrung menimpali dengan suara yang cukup keras juga. Entah apa yang dipertengkarkan saya tidak tahu. Pokoknya rame ! Orang-orang disekitar ikutan nonton, beberapa mobil yang lewat juga ikut melambat. Sayapun ikut berhenti sebentar menonton atraksi langka tersebut, tapi menahan diri untuk tidak memotret mereka, dari pada saya dikejar dan dipukuli orang besar-besar itu.

Ketika melihat pertengkaran mulut itu tidak kunjung mereda (dan juga tidak meningkat) saya mulai bosan, mending balik saja ke hotel karena sudah nggak seru lagi.

Sekitar jam 5 sore waktu setempat perut saya lapar luar biasa. Ah ya, ini kan jam 12 malam di Jakarta, perut saya meminta jatah untuk dikasih makan malam rupanya, sudah telat pula. Awalnya saya ingin makan makanan khas Maroko yang sangat terkenal, tapi menurut info dari pihak hotel,  restoran Maroko yang terkenal lokasinya agak jauh dari hotel. Maka saya urungkan niat tersebut dan akhirnya makan KFC saja, yang kebetulan ada outletnya di dekat hotel. Jauh jauh kesini makannya KFC !!!

Malam harinya saya ngopi-ngopi di Segafredo Café, masih di dekat hotel dan ngobrol-ngobrol dengan sepasang turis asal New York yang sedang transit sebelum kembali ke kotanya. Tapi saya tidak bisa ngobrol lama-lama karena saya ngantuk luar biasa, maklum jam tubuh saya hari pertama itu masih jam Jakarta. Jam lokal masih jam 7 malam tapi di Jakarta sudah jam 2 pagi ! Saya jetlag !

Semakin malam suasana di jalanan depan hotel semakin ramai, karena ternyata jalanan sepi di malam hari ini dipakai sebagai tempat ngebut trek-trekan sepeda motor remaja. Suara bising motor ini lumayan mengganggu tidur saya, terlebih lagi kamar saya menghadap ke jalan.

MAROC [2010] #1 : 20 Jam Menuju Casablanca



Ide awalnya adalah ingin ke Mesir. Namun ketika sedang menyusun itinerary, muncul ide untuk sekalian ke Maroko. Maroko muncul dalam ide perjalanan saya karena simply tanpa perlu visa.

Rute perjalanan saya adalah dari Jakarta menuju Casablanca via Doha dengan menggunakan Qatar Airways. Dari Casablanca saya menuju ke Marrakech menggunakan penerbangan domestik Royal Air Maroc. Selanjutnya saya terbang dari Casablanca menuju ke Kairo dengan menggunakan pesawat Egypt Air. Petualangan di Cairo akan dijelaskan dalam artikel terpisah tentang Mesir.

Qatar Airways dipilih karena harga tiketnya yang murah sekali saat itu. Saya dapat tiket promo dengan rute Jakarta-Casablanca, Cairo-Jakarta dengan harga hanya USD 750. Selain murah, Qatar Airways sudah punya reputasi yang baik dalam hal servis sebagai salah satu dari beberapa “5 star airlines” di dunia. Bandingkan dengan harga tiket untuk rute yang sama dengan Turkish Airlines USD 1250 dan Lufthansa USD 1800 !

Awalnya saya enggan memilih naik Qatar Airways atau airlines Timur Tengah lainnya seperti Emirates atau Etihad, karena jadual transfer di kota-kota HUB mereka hampir dipastikan sekitar jam 2 dinihari waktu Indonesia Barat atau sekitar jam 10 malam waktu setempat.  Bayangkan disaat mata masih rasanya masih merem seperti dilem kita terpaksa harus bangun, turun dari pesawat dan luntang-lantung di airport menunggu penerbangan lanjutan. Tapi berhubung harga tiketnya jauh lebih murah, saya tutup mata saja deh dengan semua kekurangannya !

Keberangkatan menuju ke Bandara Soekarno Hatta siang itu diwarnai kemacetan. Pintu masuk tol Semanggi ditutup dan ratusan mobil diarahkan untuk masuk tol melalui pintu tol Slipi. Kebayang kan macetnya seperti apa ! Membutuhkan waktu 1 jam untuk jarak Semanggi – Slipi. Ketika masuk Tol Bandara lagi-lagi saya terjebak kemacetan, kendaraan merayap sangat lambat. Selain karena ada perbaikan jalan, arus mobil yang akan ke Cengkareng Jumat sore itu sepertinya luar biasa membludak. Sudah jam 4 lewat dan saya mulai senewen. Rasanya mau keluar dari mobil dan naik ojek saja ke Terminal 2D kalau tidak ingat ada koper besar di bagasi mobil. Kalau sudah begini, rasanya sungguh frustasi hidup di kota yang sangat penuh sesak bernama Jakarta. Kapan ya transportasi publik kita membaik sedikit saja. Mana realisasi Kereta Api Bandara yang sudah diomongkan sejak lama itu ?

Tepat jam 5.10 sore saya sampai di Terminal 2D dan langsung menghambur lari sprint ke Check-In Counter (sialnya lupa e-check in pagi harinya). Ada beberapa penumpang lainnya juga berlari-larian masuk ke Check-In Hall karena terlambat kejebak macet tadi. Untunglah proses check-in, pengurusan bebas fiskal (bagi pemegang NPWP saat itu) dan pemeriksaan imigrasi berjalan lancar.

Ini adalah pengalaman pertama saya terbang dengan Qatar Airways untuk penerbangan jarak jauh. Secara umum cukup baik servisnya. Pelayanan para awak kabin lumayan baik, meskipun buat saya masih kalah dari airlines Asia sekelas Singapore Airlines, Cathay Pacific maupun ANA. Makanan yang dihidangkan cukup baik.

Setelah terbang selama 8 jam, sekitar jam 2 dinihari waktu Indonesia Barat (atau jam 10 malam waktu Doha) pesawat mendarat dengan mulus di Doha International Airport. Kualitas aspal airport di negara kaya minyak & gas ini memang beda jauh dengan kualitas aspal di Cengkareng ! Di Doha pesawat berjalan dengan mulus karena aspalnya sangat baik kualitasnya.

Saya harus menunggu 3 jam di Doha Airport untuk transfer dan ganti pesawat menuju ke Casablanca. Suasana departure hall airport Doha sangat ramai malam itu, terutama banyak sekali rombongan para pekerja kasar yang akan bepergian ke berbagai tempat.

Ketika sedang berjalan mencari kursi yang nyaman untuk duduk, saya ditegur oleh seorang petugas airport. Laki-laki Caucasian itu bertanya “are you Indonesian ?“ Sesaat setelah saya jawab yes, dia meminta tolong untuk membantu menterjemahkan instruksi dia kepada dua orang wanita TKI asal Indonesia yang tampak sangat kebingungan dan tersesat.

Rupanya penerbangan mereka menuju ke Jakarta baru keesokan pagi jam 8.30 dan mereka bingung. Saya menterjemahkan instruksi si petugas kepada kedua wanita tersebut, intinya mereka bisa tidur, entah di kursi luar maupun di kursi quiet room. Besok pagi, mereka harus memastikan diri mereka berada di pintu gate pesawat ke Jakarta paling lambat jam 7. Kedua wanita tersebut mengangguk dan pergi menuju ke quiet room. Semoga mereka tidak ketinggalan pesawat !

Satu hal yang kurang dari perjalanan ini adalah terminal Doha Airport yang kurang nyaman. Di jam-jam tertentu departure hall-nya sangat ramai, apalagi kebanyakan adalah para pekerja kasar, jadinya  urusan kebersihan menjadi isu utama. Selain itu, di airport ini tidak ada airport hotel, sehingga kalau transit malam-malam lebih dari 6 jam ya wassalam saja, kudu tidur di kursi semalaman ! Pemerintah Qatar sedang membangun terminal airport baru, di kompleks yang sama, yang kabarnya akan jadi airport termodern dan termegah di dunia.

Jam 01.30 waktu Doha (sekitar jam 05.30 waktu Indonesia Barat) saya boarding ke penerbangan selanjutnya menuju ke Casablanca via Tripoli. Pesawat kira-kira terisi 75% dari load factor, sebagian adalah para pekerja asal Asia Selatan dan Afrika.
Setelah dikasih makan dua kali dalam penerbangan Jakarta – Doha sebelumnya, saat itu setelah take-off dari Doha, para awak kabin membagikan makan berat kepada semua penumpang. Opsi makan jam segitu tidak menarik buat saya, tidur lebih menyenangkan dari pada makan melulu di pesawat.

Tidur saya kurang nyenyak dipesawat saat itu. Mungkin karena tubuh saya masih mengikuti jam Jakarta dimana sudah waktunya pagi hari. Mungkin juga karena suara mesin pesawat yang dekat sekali dengan kursi saya. Sialnya, disaat saya baru mulai bisa tidur nyenyak, malah dibangunkan pramugari untuk siap-siap landing di Tripoli. Saat itu sekitar pukul 05.00 pagi waktu Tripoli.

Airport Tripoli ternyata tidak begitu besar dan masih gelap Subuh itu. Hanya penumpang tujuan Tripoli yang diperbolehkan turun dari pesawat. Sisanya termasuk saya cuma bisa duduk bengong di pesawat sambil mengambil minuman yang bolak balik dibawa para awak kabin.

Dari pengeras suara di kabin pesawat diumumkan bahwa penumpang dengan tujuan Tripoli harus segera turun disini. Pengumuman dilakukan dalam bahasa Inggris dan Arab. Tapi hanya sedikit penumpang yang berdiri dan berkemas untuk turun. Tampaknya banyak yang tidak mengerti instruksi tersebut, khususnya para pekerja beretnis Asia Selatan dan Afrika. Para awak kabin terpaksa harus bekerja ekstra Subuh itu untuk memastikan penumpang tujuan Tripoli terusir keluar kabin pesawat. Seorang Pramugara beretnis Asia Selatan berteriak-teriak dalam bahasa Urdu, yang hampir pasti artinya “penumpang dengan tujuan Tripoli turun disini !”. Itupun ternyata tidak cukup. Awak kabin lainnya harus mengecek Boarding Pass para pekerja itu satu persatu untuk memastikan tujuan penerbangan mereka. Alhasil ternyata semua pekerja etnis Asia Selatan dan Afrika itu turun di Tripoli ! Penumpang yang tersisa hanya tinggal sepertiganya saja.



Di airport Tripoli banyak pesawat jet pribadi parkir. Hmmmm sepertinya itu adalah pesawat pribadi keluarga dan kroni-kroni Moammar Khadafi.

Ketika pesawat kembali terbang untuk meneruskan perjalanan ke Casablanca yang cuma tersisa 2 jam lagi, saya sudah tidak bisa tidur lagi karena para awak kabin sudah sibuk menghidangkan sarapan. Ada dua pilihan menu pada pagi itu, menu sarapan Arabian atau menu Western, dan saya pilih menu yang kedua.




Sekitar jam 08 pagi waktu Casablanca (atau sekitar jam 15 waktu Jakarta) pesawat mendarat dengan mulus di Mohammed V Airport – Casablanca, disambut cuaca yang sangat cerah dan udara yang sejuk sekali. Sekitar 20 jam sudah saya diperjalanan ! Salah satu perjalanan terpanjang yang pernah saya lakukan. 

Airportnya mengingatkan saya sama bandara Halim Perdana Kusumah, karena sama-sama kuno, meskipun disini beberapa bagian telah direnovasi. Pengumuman-pengumuman di airport dilakukan dalam tiga bahasa : Arab, Perancis dan Inggris.

Maroko memang bebas visa ! Kita bisa melenggang bebas dengan hanya bermodalkan paspor saja. Tapi setelah imigrasi selesai, neraka sesungguhnya ada di pemeriksaan custom clearance (bea cukai) karena semua penumpang harus melewati pemeriksaan manual dengan membuka koper mereka dan diperiksa dengan teliti isinya.
Sampai giliran saya, saya menghadapi petugas custom seorang wanita muda. Koper saya diperiksa dengan detil sampai dikorek-korek ke sela-sela kantong di dalamnya. Saya diminta menjelaskan beberapa benda yang mencurigakan untuk dia. “what is this ?”katanya ketika melihat memory card kamera saya. Lalu “what is this” ketika melihat filter UV untuk lensa kamera saya. Mungkin dia pikir kaca filter UV itu sejenis tempat alas menghirup drugs kali ya ? hahahaha. Bisa dibayangkan luapan antriannya seperti apa dan berapa lama.

Rencananya saya akan menuju ke Marrakech keesokan paginya dengan menumpang pesawat milik maskapai Royal Air Maroc. Awalnya ketika masih di Jakarta, saya mencoba membeli tiket domestik Casablanca – Marrakech secara online dari website Royal Air Maroc. Tapi transaksi selalu gagal dan kartu kredit saya ditolak, sepertinya mereka belum melayani kartu kredit dari Indonesia. Jadi pagi itu setelah urusan custom selesai, saya harus naik ke lantai dua tempat kantor maskapai penerbangan dan membeli tiket domestik langsung ke counter ticketing Royal Air Maroc. Untung masih ada penerbangan yang available.

Dari referensi yang saya baca, menukar uang asing dengan uang Dirham Maroko kabarnya tidak dapat dilakukan disembarang tempat dan counter money changer tidak selalu ada dimana-mana, maka saya langsung menukarkan uang di airport.

Dari airport saya menuju ke kota Casablanca dengan menggunakan kereta api, yang stasiunnya berada di lantai dasar dari airport. Keretanya mungkin sekelas dengan kereta di Italy, cukup baik dan terawat meskipun ada sedikit sampah di dalamnya. Harga tiketnya sangat murah, sekitar MAD 40 (sekitar 40 ribu rupiah). Bandingkan dengan naik taxi dengan tarif MAD 350 (sekitar 350 ribu).  Perjalanan dengan kereta ini ditempuh dengan waktu sekitar 30 menit.

Kereta berhenti di stasiun Casablanca Voyageurs di pusat kota Casablanca. Dari stasiun ini saya naik petit taxi menuju ke hotel Barcelo Casablanca. Oh ya, Di Casablanca terdapat dua jenis taxi : Petit Taxi, berupa sedan kecil butut berwarna merah bikinan Fiat, hanya diperbolehkan untuk rute-rute di dalam kota, serta Grande Taxi yang rata-rata mobil Mercy tua. Grande taxi diperbolehkan untuk membawa penumpang ke dan dari Bandara, bahkan ke luar kota sekalipun, seperti ke Rabat (ibukota negara Maroko) yang berjarak tempuh hampir 1 jam dari Casablanca.

Jumat, 01 November 2013

Tiket Murah ke Tokyo [2009]


Libur massal Lebaran 2009.

Awalnya saya tidak memiliki rencana spesifik dan hanya akan dirumah saja. Tapi ketika awal Ramadhan tiba, entah kenapa saya gatal pengin ke Jepang, karena belum pernah kesana sama sekali.

Jadilah browsing harga tiket, yang semua airlines harganya gila-gilaan. You name the airlines, mau Garuda, SQ, Malaysia Airlines, Thai, Cathay Pacific, JAL…pokoknya airlines yang take-off dari Jakarta selama peak season Lebaran itu harganya nggak wajar semua. Rata-rata semuanya diatas 11 juta rupiah untuk kelas Ekonomi. Sempat jadi pasrah dan berniat mengurungkan rencana.

Tapi besoknya saya iseng mencoba browsing lagi. Saya berpikir, musim Lebaran memang menjadi peak season di Indonesia dan Malaysia, tapi tidak di Singapore. Akhirnya saya mulai bongkar-bongkar beberapa website mencari tiket yang harganya masuk akal dengan rute Singapore – Narita. Ketika sedang browsing via website www.expedia.com, saya kaget setengah tidak percaya ketika menemukan tiket promo All Nippon Airlines (ANA) rute Singapore – Narita pp dengan harga, kalau dirupiahkan  hanya sekitar Rp. 3 juta saja !

Tanpa berlama-lama, takutnya tiket tersebut keburu sold out, langsung saja saya beli secara online. Pemburuan tiket saya lanjutkan dengan membeli tiket one-way Jakarta-Singapore menggunakan Garuda dengan harga sekitar Rp. 1.2juta. Pulangnya saya me-redeem point Krisflyer Singapore Airlines untuk rute Singapore – Jakarta. Jadilah berangkat ke Jepang dengan modal tiket tidak sampai 5 juta Rupiah. Kalaupun rute Singapore - Jakarta saya beli tiket, harga totalnya tidak akan sampai 11 juta Rupiah….bandingkan dengan harga tiket kalau berangkat dari Jakarta yang sudah saya sebutkan diatas !

Urusan visa berjalan lancar, selesai dalam 3 hari saja.

Hari itu, siang di lebaran hari kedua, saya berangkat ke Singapore dengan menumpang pesawat Airbus 330-200 Garuda yang saat itu masih gres sekali. Pesawat penuh ! 

Tengah malam harinya saya connecting dengan pesawat Boeing 767-300 ANA menuju ke Narita.

Tiba di Narita keesokan paginya, saya disambut cuaca yang sangat sejuk ! Senyum puas mengembang karena saya bisa ke Jepang dengan tiket murah meriah, bukan tiket pesawat Low Cost Carrier. 


Dari Narita saya naik kereta menuju ke stasiun Tokyo untuk berganti kereta menuju ke stasiun Shinjuku karena saya nginap di Hotel Sunroute Plaza di Shinjuku. Lagi-lagi hotel ini dipilih karena cuma selempar batu dari stasiun Shinjuku. Belajar dari pengalaman salah-salah hotel ketika di Eropa setahun sebelumnya, maka sebelum memutuskan untuk booking hotel tersebut, saya benar-benar membaca referensi dari travellers tentang hotel yang ingin dituju.

Shinjuku dipilih karena lokasi ini sangat vibrant siang dan malam, dengan stasiun kereta besar Shinjuku yang bisa menghubungkan kemana-mana dengan mudahnya. Ketika malam tiba, Shinjuku seolah menjelma menjadi jantung kehidupan Tokyo saking meriahnya. Disini memang lengkap, mulai dari stasiun kereta utama Shinjuku, pertokoan yang tersebar baik di mall maupun di tepi jalan, restoran, café, bar, club bahkan sampai kehidupan esex-esex dewasa ada semua disini. 

Kalau sore dan malam tiba, setiap setengah jam sekali akan lewat mini truck dengan lampu warna warni meriah dan foto gadis-gadis unyu-unyu Jepang yang mempromosikan striptease performance di club-club dewasa di sekitar.

Sebelum berangkat ke Tokyo, saya menyempatkan diri untuk mencari referensi tempat makan yang enak, affordable di kantong dan pastinya halal. Ada banyak masukan dari beberapa teman. 

Titin, seorang teman sejak SMP yang sempat sekolah dan tinggal lama di Jepang memperingatkan saya beberapa tips makanan di Jepang, misalkan kalau makanan ada bumbu lemak hewan maka 99% itu adalah lemak babi, lalu hindari ramen karena hampir semua ramen mengandung babi, dan lain-lain. Well noted !

Jadilah selama saya di Tokyo agak berhati-hati sekali memilih makanan. Kalau travelling di Eropa atau Amerika, saya masih bisa cari opsi antara lain : makan salad, cari restoran Timur Tengah, menu Kosher atau menu vegetarian. Tapi di Jepang agak kesulitan, mungkin karena faktor bahasa juga. Sushi dan Sashimi menjadi pelarian untuk makan utama selama disana, meskipun kehalalan sushi terkait sake yang dipakai untuk memasak nasinya masih jadi perdebatan. Saking eneknya makan sushi dan sashimi selama 4 hari di Jepang itu, maka saya stop makan makanan Jepang selama hampir 3 minggu ketika kembali ke Jakarta.

Saya mendatangi berbagai lokasi menarik di Tokyo, kecuali Dysney Japan, karena saya memang tidak tertarik dengan theme park.





Saya berhasil membuat kaki pegal ketika berjalan kaki mengelilingi Imperial Palace yang areanya sangat luas. Pengamanan disini sangat ketat, karena keluarga kerajaan memang tinggal di area ini.

  


Ketika sedang berjalan-jalan di Zozoji Temple, saya sengaja mampir di patung-patung zijo yang merefleksikan bayi-bayi yang tidak pernah terlahir ke dunia, entah karena keguguran atau meninggal dunia. Disini peziarah biasanya berdoa dan memberi hiasan kepada patung entah berupa topi, pakaian, bunga atau mainan. Ketika tiba di tempat patung-patung jizo tersebut, saya menyaksikan sepasang Jepang sedang berdoa khusyuk, lalu si wanita memasangkan sebuah bunga kecil ditopi salah satu patung. Merekapun berlalu, tinggal saya dan seorang turis lainnya. Awalnya saya melihat patung-patung bayi tersebut layaknya mainan boneka-boneka lucu yang dihiasi bermacam ragam dan asyik memotret patung-patung tersebut. Tapi entah kenapa sesaat kemudian bulu kudu saya merinding, aura di area situ menjadi tidak enak. Patung-patung boneka tersebut dimata saya sudah bukan barang lucu lagi, tapi seolah-olah “something”. Ya sudahlah, mending saya pergi saja.


Malamnya ketika sedang browsing internet, saya iseng mencari tahu zozoji temple dengan fokus kepada patung jizo tersebut. Ternyata area patung-patung jizo itu adalah area pekuburan. Walah, pantesan !  

Ketika berada di kuil Asakusa, saya mendapati tukang rigshaw, yang menawarkan jasanya kepada para turis asing yang datang. Dan beberapa dari mereka adalah wanita ! Wowww…tenaganya pasti kuat sekali mbak-mbak itu !


Di beberapa stasiun kereta besar, saya sempat mengalami kebingungan karena banyaknya cabang-cabang jalur kereta yang melewatinya. Kudu lihat betul-betul stasiun tujuan kita dan kereta yang dituju ada di line mana. Beruntung papan penunjuk di kota Tokyo hampir semuanya sudah bi-lingual Jepang-Inggris. Itupun sempat dua kali kesasar salah naik kereta. Bayangkan kalau penunjuknya huruf kanji semua !

Di stasiun kereta utama seperti Tokyo, Shinjuku dan Shinagawa terdapat seorang petugas Customer Service. Berdiri di sekitar loket karcis, wanita-wanita cantik dengan dandanan seperti pramugari lengkap dengan topi dan sarung tangan, bertugas untuk memberikan bantuan kalau ada calon penumpang kereta yang kebingungan. Layaknya penyedia jasa di Jepang, mereka sangat ramah dan helpful, tapi jangan harap anda akan mengerti bahasa Inggrisnya dengan baik. Ketika naik pesawat ANA dalam rute Singapore – Narita, sempat terjadi miskomunikasi karena saya meminta “pepper”kepada mbak pramugarinya. Beberapa menit kemudian dia datang dengan membawa kertas untuk saya (paper). Alamak !

Jam 5.30 sore di hari ketiga di Tokyo, saya sedang berada di stasiun Shinjuku, berdiri diposisi agak tinggi dengan kamera Nikon D300 dan lensa wide ditangan. Tujuan saya adalah ingin mengabadikan moment ratusan manusia lalu lalang seliweran di stasiun tersebut berpindah peron dan keluar masuk stasiun. Saya membayangkan hasil foto hitam putih dengan shutter speed rendah yang akan dahsyat hasilnya. Niat saya ini diilhami oleh sebuah tulisan di tripadvisor tentang memotret lalu lalang ratusan manusia di stasiun kereta di Tokyo yang akan menghasilkan foto yang bagus.
Suasana lalu lalang manusia memang mulai meningkat sore itu. Mereka tidak peduli satu sama lain, berjalan cepat dan fokus dengan tujuan mereka layaknya robot berjalan. Baru saja saya lakukan satu dua jepretan ujicoba sambil memeriksa apakah hasilnya bagus, seorang lelaki Jepang berbadan tegap menghampiri saya. Dia tersenyum, lalu membuka bagian kiri depan jasnya, dan…..menyembullah logo polisi di kantong kemejanya. Gile beneeerrr…..Pak Polisi itu berkata singkat “passport”…oh saya ngerti, dia meminta paspor saya. Saya lalu berikan paspor saya. Ketika dia membuka paspor saya dan melihat itu adalah paspor Republik Indonesia, dia langsung berucap “ooo….Indonesia-ne” dan membungkuk hormat kepada saya. Lhaaa baru kali itu seumur-umur saya dihormati Polisi ! Dia lalu mengembalikan paspor saya dan berbicara dalam bahasa Jepang sambil menunjuk kamera saya. OK got the point ! Intinya saya dilarang memotret disana.

Ya sejak kejadian WTC 11 September, memotret obyek-obyek vital seperti kantor, stasiun, airport, dan lain-lain menjadi kegiatan yang haram untuk dilakukan, karena dikhawatirkan akan digunakan untuk mempelajari seluk beluk area tersebut (sebelum diserang).

Niat memotret sesaknya manusia sore itu saya batalkan. Lebih baik batal dari pada ditangkap dan berurusan panjang dengan kepolisian Jepang. Untung cuma dikasih bungkukan hormat sore itu, kalau dikasih ikatan borgol di tangan, kan bisa runyam urusannya !